Kamis, 07 Juni 2012

Hinanya Meminta-minta

Nabi pernah menjelaskan tentang keutamaan bekerja dan hinanya perilaku meminta-minta sebagaiman diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Abu Dawud. Nabi bersabda,  “Sesungguhnya mencari kayu bakar dan lalu menjualnya adalah lebih baik daripada meminta-minta yang berarti meletakkan satu noktah hitam di wajahmu pada hari kiamat kelak.”
Imam Anas bin Malik (penulis kitab al-muwaththa’) menuturkan sebuah kisah yang menjadi latar belakang (asbabul wurud) disabdakannya hadis ini. Pada suatu saat ada seorang lelaki dari kalangan Anshar mendatangi Nabi untuk meminta-minta. Nabi lalu bertanya pada lelaki itu, “Apakah di rumahmu ada sesuatu?”
“Ya, ada hils (alas duduk) dan bejana untuk minum.” Jawab lelaki itu.
“Bawalah ke sini benda-benda itu,” Suruh Nabi kemudian kepada lelaki Anshar itu.
Sesaat kemudian lelaki itu datang dengan membawa hils dan bejana. Nabi lalu menawarkan benda-benda tersebut kepada para sahabat barangkali ada yang berminat untuk membelinya. Barang itu kemudian laku seharga dua dirham.
Nabi lalu berkata kepada lelaki itu, “Satu dirham gunakan untuk membeli makanan dan berikan kepada keluargamu, dan yang satu dirham sisanya gunakan untuk membeli kapak. Setelah itu datang kembali kepadaku dengan membawa kapak yang telah kamu beli.”
Lelaki itu segera melaksanakan perintah Nabi. Dan setelah ia kembali menghadap Nabi dengan membawa sebuah kapak, Nabi kemudian mengikatkan kapak tersebut pada sepotong kayu sebagai pegangan, sebelum kemudian beliau berkata, “Pergi dan carilah kayu bakar, lalu juallah. Aku tidak ingin melihatmu selama 15 hari”.
Dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, lelaki itu datang lagi dengan membawa sepuluh dirham. Uang itu ia belikan pakaian dan makanan. Nabi lalu berkata, “Ini lebih baik daripada pergi meminta-minta yang berarti meletakkan satu noktah hitam di wajahmu pada hari kiamat kelak.”
Paling tidak ada tiga pelajaran yang dapat dimabil dari hadis serta asbabul wurud-nya tersebut. Pertama, sikap terhadap kerja. Orang tidak bekerja atau menganggur bisa jadi ia tidak memiliki pekerjaan. Atau ada yang sudah memiliki pekerjaan tetapi ia gampang bosan terhadap pekerjaannya. Tetapi ada juga orang yang memang tidak mau bekerja meski sebenarnya banyak yang bisa dikerjakan. Dan parahnya, kadang ia justru lebih suka meminta-minta. Malah meminta-minta ini dijadikan pekerjaannya baik secara langsung atas nama pribadi atau mengatasnamakan suatu institusi sosial.
Terhadap orang-orang seperti ini Islam memberikan nasehat bahwa kerja itu harus dipandang sebagai ungkapan aktualisasi diri. Dengan demikian kerja tergolong sebagai jihat yang harus dilakukan. Inilah cara Islam dalam membentuk etos kerja, yaitu harus dmulai dengan pembentukan cara pandang (paradigma) terhadap kerja itu sendiri.
Kedua, merubah cara pandang. Nabi dengan sangat brilian telah mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap kerja. Tatkala lelaki Anshar tersebut meminta-minta padanya, beliau tidak langsung memberi, juga tidak langsung memberinya nasihat.
Tetapi Nabi lebih memilih untuk berusaha memberdayakan potensi yang dimiliki orang tersebut dan mengajaknya untuk berperan aktif dalam menyelesaikan persoalannya berupa ketidakmampuan untuk bekerja dengan semestinya. Setelah Nabi  memberikan tenggang waktu dan kesempatan pada lelaki tersebut untuk berusaha, barulah ia memberikan wejangan tentang hinanya meminta-minta dan bagaimana caranya seorang muslim bekerja.
Ketiga, Islam tidak memadang rendah suatu pekerjaan, walau hanya sekadar menjadi pencari kayu bakar. Islam hanya memandang hina pekerjaan yang dilakukan dengan cara salah, merendahkan diri seperti mengemis, ataupun yang merugikan orang lain.
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda: “Jika seseorang di antara kamu sekalian mau mengambil dan membawa seikat kayu bakar di punggungnya dan lalu menjualnya (untuk memperoleh penghasilan), itu akan lebih baik daripada meminta-minta pada orang lain.” (Bukhari).

Kamis, 24 Mei 2012

Kaya Itu Penting?


          Seorang mukmin sejati tidak menggantungkan hidupnya pada materi. Karena itu tidak jauh berbeda baginya antara hidup dalam gelimangan harta dengan serba kekurangan. Keduanya sama-sama disikapi sebagai rahmat Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada, disyukuri dan disabari.
Fakta bahwa kekayaan acap kali membuat orang pongah dan lalai, dan kemiskinan tak jarang membuat orang putus asa dan kadang malah menjerumuskan pada perilaku kufur, tidak lain merupakan efek dari sikap menggantungkan hidup pada materi.
Pola hidup demikian jelas tidak sesuai dengan hakikat penciptaan materi (baca: dunia) bagi manusia, yaitu sebagai fasilitas yang harus dikelola untuk menjalankan upaya secara terus-menerus mendekatkan diri kepada Allah, baik dalam dimensi personal maupun sosial.
Di sinilah relevansi peran kekhalifahan manusia. Sepatutnya manusia mengelola dunia untuk kepentingan kemanusiaan dan perjuangan agama. Dalam hal ini, terdapat satu keteladanan dari Nabi Sulaiman yang terkenal dengan kekayaan yang melimpah.
Dikisahkan, seusai membangun Baitul Maqdis di Palestina, Nabi Sulaiman melakukan perjalanan ke Yaman. Setiba di sana, ia bermaksud menyuruh burung hud-hud (sejenis belatuk) mencari sumber air. Ia pun memanggilnya. Tetapi aneh, ia tidak segera datang seperti biasanya. Nabi Sulaiman pun marah.
Tak lama kemudian burung hud-hud datang menghadap. Setelah meminta maaf ia mengatakan bahwa keterlambatannya disebabkan ia sibuk mengamati sesuatu yang penting untuk diketahui oleh Nabi Sulaiman.
Segera ia melaporkan kalau ia menemukan sebuah kerajaan di negeri Saba yang dipimpin oleh seorang perempuan yang bernama Ratu Balqis. Ia hidup dalam gelimangan harta serta mempunyai singgasana yang besar dan megah. Ia dan kaumnya menyembah matahari.
Nabi Sulaiman segera menindaklanjuti informasi itu dengan mengirim surat nasihat kepada Ratu Balqis agar ia menyembah Allah. Burung hud-hud sendiri yang disuruh membawa surat itu. Seusai membaca surat itu Ratu Balqis mengirim utusan bersama hadiah kepada Nabi Sulaiman. Sesampainya di hadapan Nabi Sulaiman, utusan itu menyampaikan pesan Ratu Ratu Balqis: apakah patut kamu menolong aku dengan harta?
Nabi Sulaiman pun mengirim jawaban untuk Ratu Balqis: sesungguhnya apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. “Kembalilah kalian. Sungguh kami akan mendatangi kalian dengan bala tentera yang tidak mampu kalian lawan, dan kami pasti akan mengusir kalian dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan kalian akan menjadi tawanan yang tidak berharga,” kata Nabi Sulaiman.
Utusan itu kembali ke negeri Saba dan melaporkan semua yang terjadi. Ratu Balqis kelihatan gentar, sehingga ia ingin berjumpa sendiri dengan Nabi Sulaiman. Keinginan Ratu Balqis ini berhasil diketahui Nabi Sulaiman terlebih dulu. Ia pun segera memerintahkan tenteranya yang terdiri dari manusia, hewan dan jin untuk membuat persiapan guna menyambut kedatangan Ratu Balqis.
Nabi Sulaiman juga memerintahkan Ifrit supaya membawa singgasana Ratu Balqis ke istananya. Setibanya Ratu Balqis Nabi Sulaiman bertanya kepadanya, “Apa seperti ini singgasanamu? “Ya, memang sama seperti ini.” Jawab Ratu Balqis sebelum kemudian ia dipersilakan untuk masuk ke istana Nabi Sulaiman.
Namun, ketika berjalan di istana Nabi Sulaiman, pandangan Ratu Balqis tertipu oleh kilauan lantainya yang disangkanya berupa genangan air, sehingga ia mengangkat kainnya hingga kedua betisnya terlihat.
Melihat kejadian itu, Nabi Sulaiman berkata, “Lantai ini tampak licin karena dibuat dari kaca.” Peristiwa ini membuat Ratu Balqis merasa sangat malu, dan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zalim kepada diriku sendiri dan aku berserah diri bersama Nabi Sulaiman dan kepada-Mu, Tuhan semesta alam.”
Ratu Balqis yang telah menyadari kelemahannya itu kemudian memohon ampun atas segala kealpaan yang selama ini diperbuatnya. Ia pun kemudian berserah diri kepada Nabi Sulaiman untuk diperistri.
Demikianlah kisah keangguhan Ratu Balqis yang ditundukkan oleh kekayaan Nabi Sulaiman. Sangat berbeda dengan Nabi Sulaiman yang justru menggunakan kekayaannya untuk memperjuangkan kalimat tauhid.
Oleh karenanya, seorang mukmin boleh kaya, bahkan di era sekarang tampaknya kaya ini sangat penting karena masyarakat hampir menilai segala hal dari sisi ekonomi. Salah satu implikasinya, perkataan orang kaya akan lebih mudah diterima dan diikuti dibanding perkataan kyai sekalipun.
Namun yang patut diingat adalah jangan sampai penerimaan dan keikutan masyarakat terhadap orang kaya itu karena kekayaannya, bukan semata-mata perkataannya memang baik dan benar. Karena hal ini justru berimplikasi pada hilangnya keimanan, seperti telah dinyatakan Nabi bahwa orang yang tunduk dan patuh kepada orang kaya karena kekayaannya seperempat agamanya telah hilang. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Kamis, 10 Mei 2012

Takut Hisab

Tampaknya tidak salah jika dikatakan Abu Bakar al-Siddiq adalah orang yang paling baik setelah Nabi. Bukankah ia yang disuruh Nabi untuk menggantinya sebagai imam salat saat beliau sedang sakit dan mendekati ajalnya. Ia juga yang akhirnya dinobatkan menjadi khalifah untuk yang pertama kali dalam sejarah Islam.
Tidak hanya itu, Abu Bakar juga menempati urutan pertama dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga (al-‘asyarah al-mubasysyar bi al-jannah). Bahkan Nabi pernah menyampaikan kalau nama Abu Bakar akan dipanggil dari setiap pintu surga dan ia merupakan seorang pengikutnya yang pertama akan memasukinya.
Tetapi semua itu tidak membuatnya terlena hingga menggeser sikap takwanya kepada Allah. Paling tidak hal ini tercermin dalam ungkapan-ungakap yang menunjukkan rasa takutnya kepada Allah yang bersemayam kuat di dalam hatinya.
Sekedar menyebut contah, Abu Bakar bernah mengungkapkan, “Alangkah baiknya kalau aku menjadi sebatang pohon yang ditebang dan dijadikan kayu bakar.” “Alangkah baiknya kalau aku ini menjadi sehelai rumput yang riwayat hidupnya akan tamat apabila dimakan oleh seekor binatang ternak.”
Pernah pada suatu hari ia berada di suatu taman. Ia melihat seekor burung yang sedang berkicau. Ia pun berkata, “Wahai burung. Sungguh bahagia kamu. Kamu makan, minum, dan terbang semaumu tanpa pernah punya perasaan takut pada hari perhitungan (hisab). Aku ingin menjadi seperti kamu, burung.”
Abu Bakar juga pernah berselisih paham dengan Rabi’ah Aslamiyah, sebagaimana dituturkan oleh Rabi’ah sendiri. Saat itu Abu Bakar sempat mengeluarkan kata-kata yang agak kasar. Tetapi saat itu juga ia menyadari kesalahannya dan memohon kepada Rabi’ah untuk membalasnya dengan umpatan yang sama.
Sudah tentu Rabi’ah enggan memenuhi permintaan Abu Bakar tersebut. Tapi anehnya, Abu Bakar malah mendesak dan mengancam untuk mengadukannya kepada Nabi. Rabi’ah tetap menolak. Abu Bakar kemudian pergi meninggalkan Rabi’ah.
Beberapa orang kawan Rabi’ah yang sejak awal menyaksikan peristiwa itu mulai berkomentar, “Aneh sekali orang itu. Dia yang melakukan kesalahan, malah dia sendiri yang mengancam untuk mengadu kepada Nabi.”
“Kamu tahukah siapa dia?” tanya Rabi’ah. “Dia adalah Abu Bakar. Menyinggungnya berarti menyinggung Nabi. Menyinggung Nabi berarti menyinggung Allah. Kalau perbuatanku menyinggung Allah, siapa yang akan mampu menyelamatkanku,” tegasnya.
Rabi’ah kemudian mengajak kawan-kawannya pergi menghadap Nabi untuk mengadu. Nabi kemudian berkata, “Keenggananmu mengeluarkan kata-kata kasar itu sudah tepat, tetapi alangkah lebih baik kalau untuk mengurangi kegelisahan batinnya kamu berkata ‘semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar’.”
Begitulah sebagian contoh sikap takwa yang ditunjukkan oleh Abu Bakar al-Siddiq. Ia selalu mengawatirkan pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak di hari kemudian. Perasaan khawatir ini membuatnya selalu berhati-hati dalam bertindak. Meski sebagai manusia ia tidak luput dari kesalahan.
Sikap dasar ini pula yang membawa keberhasilannya selama menjabat sebagai khalifah. Sudah tentu sikap ini merupakan satu teladan yang sepatutnya ditiru oleh pemimpin-pemimpin saat ini, terutama mereka yang beragama. Mereka bisa saja melakukan manipulasi pertanggungjawaban kepemimpinannya di dunia ini, tetapi mereka jelas tidak mampu mengelabuhi mata Rakib dan Atid yang selalu mengawasi setiap langkahnya.
Barangkali beratnya tanggungjawab ini yang membuat para sahabat, terutama al-khulafa’ al-rasyidun, saat itu enggan untuk dinobatkan sebagai khalifah. Sehingga untuk memaksanya para sahabat bersepakat untuk menggunakan mekanisme baiat. Dengan kata lain, mekanisme baiat ini menjadi pilihan alternatif saat tidak mungkin dilakukan pemilihan dan atau penunjukkan.
Hal ini sangat jauh dengan fenomena saat ini, di mana seseorang akan bersedia melakukan apa saja agar ia dipilih menjadi pemimpin. Kalau dulu beratnya tanggungjawab, terutama saat yaum al-hisab, menjadi pertimbangan utama. Tapi kini justru orang akan berpikir ia akan dapat melakukan apa saja kalau ia menjadi seorang pemimpin.
Ungkapan ini bukan berarti merupakan satu simpul bahwa apa yang terjadi saat ini tidak ada sisi baiknya sama sekali. Tetapi lebih menekankan agar bangsa yang religius ini tidak melupakan agama dan keberagamaannya saat ingin merebut kursi kepemimpinan. Sebab dampaknya tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi masyarakat secara umum.
Patut diingat, Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu saat melihat anak kecil yang menjerit kelaparan sementara ibunya hanya mengelabuhi harapannya dengan menanak batu, bukan karena ia takut reputasi kepemimpinannya hancur karena prestasi kepemimpinannya yang buruk. Tetapi lebih karena sikap takwanya. Karena takut pada pertanggungjawabannya kelak pada yaum al-hisab. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Kamis, 03 Mei 2012

Energi Hati

Di salah satu sudut pasar kota Madinah terdapat seorang pengemis Yahudi buta. Setiap kali ada orang yang mendekatinya dia selalu berkata, ”Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.”
Pada setiap pagi ada seorang lelaki yang mendatanginya dengan membawa makanan. Tanpa berkata sepatah kata pun lelaki itu menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Pengemis itu juga selalu berpesan agar lelaki itu tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.
Pekerjaan rutin itu terus dilakukan lelaki itu hingga dia dipanggil menghadap Tuhannya, meninggal dunia. Sepeninggalnya tidak ada lagi orang yang membawakan makanan kepada pengemis Yahudi buta itu.
Pada suatu hari Abu Bakar berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah. Dia bertanya kepada Aisyah, ”Anakku adakah sunah kekasihku yang belum aku kerjakan?” ”Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunah, hampir tidak ada satu sunah Nabi pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunah saja.” Jawab Aisyah. ”Apakah Itu?” tanya Abu Bakar. ”Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” kata Aisyah.
Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah dengan suara yang agak tinggi, ”siapakah kamu!” Abu Bakar menjawab, ”Aku orang yang biasa mendatangimu. Maaf agak lama aku tidak mendatangimu.”
”Bukan! kamu bukan orang yang biasa mendatangiku,” jawab si pengemis itu. ”Bila dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan dengan mulutnya, setelah itu dia berikan padaku dengan mulutnya sendiri.” Pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya, dia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, ”Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Rasulullah.”
Pengemis itu tercenganga mendengar cerita Abu Bakar. Dia pun menangis dan berkata, ”benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi dia tidak pernah sekali pun memarahiku. Dia malah mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, dia begitu mulia....” Pengemis Yahudi buta itu akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar.
Begitulah salah satu teladan Nabi tentang energi hati. Kekuatan hatinya telah membuatnya mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menebarkan kebaikan kepada orang lain, termasuk orang-orang secara terang-terangan menunjukkan sikap tidak senang dan memusuhinya.
Semua itu dilakukan Nabi bukan semata-mata karena terpaksa. Maksudnya, bukan berarti sebenarnya Nabi enggan melalukan pekerjaan rutin itu, tetapi karena dia memiliki tujuan untuk menampakkan perilakunya baiknya kepada orang lain sehingga semua orang akan mengikutinya. Tegasnya pekerjaan itu menjadi salah satu bentuk strategi dakwahnya.
Bukan demikian halnya, Nabi melakukan pekerjaan itu dengan tulus. Tidak ada sedikit pun pamrih agar dia dianggap orang baik. Semata-mata karena kebaikan hati Nabi yang mendorongnya untuk selalu memberikan perhatian kepada orang lemah, serta selalu berusaha untuk menjadi orang yang memiliki manfaat bagi orang lain.
Tuhan mencipta akal dan hati bagi manusia dengan fungsi masing-masing yang spesifik. Bagi orang yang beragama seharusnya menjadikan hati sebagai fokus utama perhatiannya, bukan akal, sebab ia dekat dengan roh yang suci, dan menjadi penggerak utama bagi manusia.
Tetapi kebanyakan orang justru lebih mengutamakan akal daripada hati. Akal dianggap merupakan alat utama bagi manusia untuk menunjukkan eksistensinya. Pandangan mereka mendapat justifikasi dari ilmu logika (mantiq) yang memposisikan akal sebagai pembeda manusia dengan makhluk yang lain.
Pandangan umum ini biarlah seperti adanya. Tetapi bagi orang yang beragama tentu tetap harus menomerduakan akal setelah hati. Sebab baik atau buruk manusia sangat tergantung pada hatinya, sebagaimana penegasan Nabi bahwa  ”Di dalam tubuh manusia terdapat segumpal darah, jika ia baik maka sekujur tubuh akan baik, tetapi jika ia buruk maka sekujur tubuh akan buruk. Ingat segumpal darah itu adalah hati.”
Sampai di sini jelas bahwa kekuatan energi hati akan mampu menandingi dan mengalahkan kekuatan akal. Terkait dengan karakter buruk manusia misalnya, sangat susah untuk merubahkanya dengan hanya menggunakan pendekatan akal. Tetapi jika hatinya dapat ditata maka dengan sendirinya potensi karakter buruk itu tidak mendapat bagian untuk digunakan.
Belum lagi efek munafik yang ditimbulkan oleh akal. Contoh yang amat jelas dapat disaksikan pada tayangan yang mempertontonkan ungkapan bawah sadar seseorang yang terhipnotis di televisi. Ungkapan bawah sadar yang jujur itu berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ungkapannya di saat dia sadar. Hal ini terjadi tidak lain karena faktor akal.

Kamis, 19 April 2012

Berfikir Positif

Nabi Musa pernah diperintah Allah untuk menambah ilmu dari seseorang yang sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus laut. Nabi Musa segera mencari orang itu. Ternyata ia adalah Nabi Khidir. Nabi Musa langsung mengutarakan maksudnya kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir bersedia meluluskan niatnya dengan syarat Nabi Musa tidak boleh tergesa-gesa bertanya tentang apapun yang akan terjadi sebelum Nabi Khidir menjelaskan.
“Tapi aku yakin kamu tidak akan bisa bersabar,” tambah Nabi Khidir. Namun karena Nabi Musa bersikeras, Nabi Khidir akhirnya mengajaknya memulai perjalanan dengan berdasarkan pada syarat tadi. Ternyata benar, ketika Nabi Khidir mulai memberikan pelajaran melalui sikap-sikapnya dalam menghadapi beberapa peristiwa, Nabi Musa tidak mampu menahan gejolak dalam dirinya untuk segera ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Kisah yang dikutip dari Alquran surat al-Kahfi ayat 60–82 ini, menggambarkan menggelayutnya “pikiran-pikiran jelek” Nabi Musa saat menerima pelajaran dari Nabi Khidir. Sudah tentu pikiran seperti itu telah membawa Nabi Musa pada kegagalan dalam belajarnya.
Kisah tersebut menyiratkan betapa pentingnya berprasangka baik dan berpikir positif dalam memandang orang lain maupun menyikapi sebuah peristiwa. Paling tidak ada empat poin penting yang dapat dicatat dari kisah tersebut. Pertama, penilaian seseorang terhadap orang lain kadang tidak sesuai dengan senyatanya, karena penilaian orang hanya berdasar pada yang tampak. Padahal keseluruhan kedirian orang tidak bisa hanya dilihat dengan mata telanjang.
Kedua, berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan. Dalam hal ini terdapat satu teladan dari Rasulullah Saw. Pada saat seluruh kafilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu, Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun yang terjadi justru mereka mengejek dan menyakiti Rasulullah serta melumuri wajahnya dengan pasir.
Di tengah terjadinya peristiwa itu malaikat Jibril mendatangi Rasulullah. “Wahai Muhammad, (dengan perlakuan mereka ini) sudah sepantasnya jika kamu berdoa kepada Allah agar Ia membinasakan mereka seperti doa Nuh atas kaumnya.” Kata Jibril. Rasulullah segera mengangkat kedua tangannya. Tetapi yang terucap dalam doanya bukan sebuah doa kutukan, melainkan untaian permohonan maaf dan harapan bagi orang-orang yang telah menyakitinya; ‘Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya (mereka melakukan semua ini terhadapku) hanya karena mereka tidak tahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu.’”
Pilihan Rasulullah untuk tidak menuruti saran Jibril ini ternyata tidak salah. Tidak lama setelah peristiwa itu, mereka yang pernah menyakitinya berangsur-angsur memeluk Islam dan menjadi sahabatnya yang paling setia. Hal ini seperti terekam dalam surat al-Fushshilat ayat 34, “Tanggapilah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab.”
Ketiga, berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati dan hidup seseorang. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kebencian. Hati yang tenteram adalah hati yang tidak memendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun orang lain.
Kebencian, berburuk sangka, dan berpikir negatif hanya akan meracuni hati. Oleh karena itu, ketika orang-orang Yahudi mengumpat Rasulullah yang sedang duduk santai bersama ‘Aisyah dan ‘Aisyah terpancing untuk membalas menyumpahi mereka, Rasulullah segera mengingatkan ‘Aisyah, “Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal.” (Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah).
Keempat, berpikir positif bisa membuat hidup seseorang lebih legowo, karena Allah seringkali menyiapkan rencana-rencana yang mengejutkan bagi hamba-Nya. Sebuah peristiwa yang terjadi pada Umar bin Khaththab dapat dijadikan contoh hal ini.
Salah seorang puteri Umar, Hafshah, baru saja menjanda. Umar menemui Abu Bakar untuk menawarinya agar mau menikahi Hafshah. Ternyata Abu Bakar menolak. Umar kemudian menawari Utsman bin Affan, namun Utsman pun menolaknya.
Dalam kegalauan itu, Umar mengadu kepada Rasulullah tentang sikap kedua sahabatnya tersebut. Rasulullah kemudian menuntun Umar agar selalu berpikir positif sehingga ia bisa menjalani hidup dengan legowo. Rasulullah bahkan berdoa, “Semoga Allah akan menentukan pasangan bagi Hafshah, yang jauh lebih dari Utsman; serta menentukan pasangan bagi Utsman, yang jauh lebih baik dari Hafshah.”
Ternyata, tak lama setelah itu, Rasulllah menikahkan Utsman dengan puteri beliau sendiri. Dan setelah itu, beliau pun menikahi Hafshah. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Senin, 02 April 2012

Budaya Meniru

         Pada masa pendudukan Belanda di tanah air ini, tidak sedikit ulama pribumi yang menfatwakan haramnya memakai celana dan dasi, dengan dalih hal itu menyerupai pola berpakaian para penjajah. Dasar nashnya adalah sabda Nabi bahwa siapa saja yang menyerupai suatu kaum ia termasuk dari mereka.
    Fatwa ini barang kali antara lain dimaksudkan sebagai salah satu upaya menumbuhkembangkan semangat patriotisme di kalangan masyarakat melalui penolakan bentuk-bentuk tradisi bangsa penjajah. Dengan begitu bangsa ini tidak mudah terpengaruh oleh bentuk-bentuk ‘kemewahan’ yang ditawarkan oleh mereka.
       Pada masa Nabi pelarangan semacam ini juga pernah dikeluarkan, seperti pelarangan untuk menyemir rambut dan lain-lain. Tetapi  di sisi lain Nabi tidak memungkiri akan terjadinya peniruan-peniruan, seperti tercermin dalam pernyataannya bahwa “sesungguhnya kalian pasti meniru tradisi dan gaya hidup umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dan kalian akan terus mengikuti mereka walau pun harus memasuki lubang biawak.”
Ibnu Hajar al-Asqalani memahami hadits ini dengan mempersandingkannya dengan fakta sejarah, yaitu peniruan umat Islam terhadap bangsa Romawi dan Persi dalam masalah hukum dan politik, dan terhadap umat Yahudi dan Nasrani dalam masalah  keyakinan, cara pandang, pemikiran, gaya hidup, perilaku, dan moral. Fakta ini ditemukannya pada pertanyaan para sahabat lebih lanjut kaitannya dengan pernyataan Nabi tadi, yaitu tentang pembenaran Nabi ketika mereka menanyakan keempat budaya yang ditiru itu.
Adapun peniruan yang digambarkan Nabi sampai harus memasuki lubang biawak, menurutnya, merupakan satu kiasan yang menunjukkan bahwa kesukaan meniru itu sampai pada batas tidak lagi membedakan antara yang boleh ditiru dan yang tidak, yang bertentangan dengan keyakinan agama dan melanggar moral etik dan yang tidak.
Dengan demikian, Islam sebenarnya tidak memungkiri adanya budaya meniru di kalangan umat. Dan sah-sah saja dilakukan asal tidak melampaui batas-batas yang telah ditentukan oleh syari’at. Karena tindakan melampaui batas sama saja dengan melakukan penyimpangan terhadap syari’at.
Budaya meniru ini dapat dikaitkan dengan anjuran Nabi tentang menuntut ilmu. Ia pernah menganjurkan kepada umatnya agar mencari ilmu meski sampai berada di tempat yang jauh. Ia menyebutnya ‘meski di negeri Cina.’ Padahal pada saat itu Cina belum tersentuh oleh dakwah Islam. Salah satu logika yang dapat diambil dari anjuran Nabi ini demikian: Seorang yang tengah menuntut ilmu negeri Cina sudah tentu ia akan bersentuhan dengan budaya asing dan mendapatkan ilmu pengetahuan yang asing pula baginya. Dan persentuhan ini jelas akan berimplikasi pada perubahan prilakunya.
Tetapi anjuran ini jika dikaitkan dengan anjurannya tentang 'berpegang teguh pada iman Islam,' maka dapat dipahami bahwa tidak semua yang datang dari orang lain (dalam konteks pernyataan Nabi tersebut adalah budaya dan ilmu Cina) diambil secara mentah-mentah, melainkan harus disaring dengan syari’at Islam. Sudah tentu hanya yang terdapat kesesuaian dengan syari’at Islam yang boleh dikembangkan.
Di era modern ini semangat itu dibuktikan dengan banyaknya pelajar muslim yang menuntut ilmu di negara-negara non-muslim, yang salah satu wujud konkritnya adalah berkembangnya wacana keislaman dengan berbagai ragam bentuknya, baik kaitannya dengan pola keberagamaan maupun pola berbangsa dan bernegara. Berkembangnya sistem negara demokrasi di negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim tidak lain merupakan hasil dari budaya meniru ini. Di samping itu, di kalangan umat sendiri juga telah berkembang suatu pola keberagamaan yang inklusif (terbuka).
Namun, dalam konteks percampuran (akulturasi) budaya secara global, sudah tentu budaya meniru ini memiliki dimensi positif dan negatif, di mana hal serupa juga telah disinggung oleh Nabi. Dan sudah tentu hanya yang positif yang seharusnya diambil. Untuk itu, suatu upaya untuk mendampingi masyarakat agar tidak terlalu jauh terjerumus dalam pengambilan aspek negatif harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan.
Tugas ini merupakan kewajiban seruruh komponen bangsa, terutama kalangan pemimpin. Untuk itu, salah satu tugas utama mereka adalah menciptakan kemandirian bangsa di mata dunia, sehingga bangsa ini tidak mudah terombang ambing oleh derasnya penetrasi budaya yang sengaja dilancarkan untuk menghancurkan moralitas bangsa ini.
Pergeseran suatu bentuk budaya bahkan pada tataran tata nilai mungkin tidak dapat dihindari sebagai suatu apaya memperbaiki kondisi bangsa, tetapi hal ini jangan sampai mencerabutnya dari akar budaya sendiri yang memang harus dipertahankan.
Dari segi tontonan yang disuguhkan kepada masyarakat melalui media televisi misalnya, sudah tentu diharapkan adanya produk-produk lokal yang berkualitas yang mampu bersaing di pentas internasional, sehingga dapat menggeser image yang ada sekarang, yaitu ‘asal luar negeri’.
Dalam riwayat lain Nabi ditanya tentang kapan keadaan seperti ini terjadi. Ia menjawab, ''Ketika orang baik-baik tidak lagi bersikap tegas dalam menolak kemungkaran, ketika orang jahat dengan bebas melakukan kejahatannya, ketika kekuasaan dipegang oleh orang lemah, dan ketika banyak orang yang bergaya seperti  ulama tetapi perbuatannya menjijikan.''