Kamis, 19 Juli 2012

Cara Nabi Menyambut Ramadlan

Islam menentukan adanya bulan-bulan mulia (asyhur al-hurum), Rajab, Sya'ban, Ramadlan, Dzulhijjah, dan Muharram. Di antara kelima bulan itu Ramadlan merupakan bukan yang paling mulia. Banyak hal yang menjadikan ramadlan sebagai bulan yang istimewa, diantaranya yang terpenting adalah kewajiban puasa, nuzul al-Qur'an, dan lailat al-qadr.
Nabi banyak memberikan anjuran kepada umatnya agar menyambut datangnya bulan ini dengan berbagai persiapan dan mengisinya dengan berbagai perbuatan baik. Tidak hanya menganjurkan, Nabi sendiri memberi contoh dalam meningkatkan kebaikan di bulan ini. Berikut beberapa contoh perbuatan Nabi selama bulan Ramadlan:
Begitu masuk bulan Ramadlan, Nabi bersegera melakukan berbagai macam kebaikan, seperti salat berjama'ah, salat sunnah, mengeluarkan sedekah, membaca al-Qur'an dan sebagainya. Beliau bersabda: "Apabila datang malam pertama bulan Ramadlan, dibelenggulah syetan dan jin, ditutuplah pintu-pintu nereka, dan dibukalah pintu-pintu surga, kemudian diserukan: wahai orang yang mendambakan kebaikan, datanglah! dan wahai orang yang tak suka kebaikan, bermalaslah! (artinya, engganlah memperbanyak amalmu). Dan sesungguhnya dalam bulan Ramadlan ini setiap malamnya Allah swt. membebaskan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari api neraka. (HR. Turmudzi)
Nabi melipatgandakan perbuatan baiknya. Salman meriwayatkan bahwa pada suatu hari di penghujung bulan Sya'ban Rasulullah bersabda, "Wahai sekalian manusia, telah datang kepadamu bulan yang agung, penuh keberkahan, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; diwajibkan padanya puasa; dan dianjurkan untuk menghidupkan malam-malamnya. Maka barang siapa yang mengerjakan satu kebajikan pada bulan ini, seolah-olah ia mengerjakan satu perintah kewajiban di bulan lain, dan siapa yang mengerjakan ibadah yang wajib, seakan-akan ia mengerjakan tujuh puluh kali kewajiban tersebut di bulan yang lain."
Begitulah salah satu cara Allah untuk mengistimewakan Ramadlan, yaitu dengan melipatgandagan pahala setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh umat Islam: pahala mengerjakan ibadah sunnah sama dengan pahala mengerjakan ibadah wajib, sedangkan ibadah wajib akan dibalas tujuh puluh kali lipat pahalanya.
Nabi juga sangat pemurah dan sangat gemar bersedekah serta memberi makan orang yang berpuasa. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah adalah orang yang paling pemurah, lebih-lebih pada bulan Ramadlan. Dilukiskan bahwa beliau bagaikan hembusan angin yang lembut, membawa banyak karunia, menabur kegembiraan di hati orang mukmin. Diriwayatkan pula bahwa beliau sangat penderma, bahkan tidak pernah menolak permintaan apapun yang diajukan ke beliau.
Nabi juga memperbanyak berdo'a, terutama ketika hendak berbuka puasa. Beliau bersabda: "Saat-saat berbuka adalah saat yang paling tepat dan mujarab bagi orang yang berpuasa untuk berdoa." Dan doa yang selalu diucapkan ketika berdoa adalah "Ya Allah, hanya karenamu aku berpuasa, dan dengan rizkimu aku berbuka, telah hilang haus dan dahaka, maka tetap hauslah pahala bagiku, ya Allah!!".
Selalu tadarrus (membaca al-Qur'an). Setiap malam bulan Ramadlan Malaikat Jibril selalu datang menemui Rasulullah, dan bersama-sama membaca al-Qur'anHikmah tadarrus Rasulullah di antaranya adalah untuk mengajarkan umatnya agar rajin membaca al-Qur'an, terutama di bulan Ramadlan, di setiap waktu, apalagi di malam hari, dan ketika mengerjakan shalat malam (tahajjud).
Nabi meningkatkan frekuensi ibadahnya terutama pada sepuluh hari terakhir dengan bertujuan untuk meraih lailatul qadar. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang beribadah pada malam lailatul qadar dengan penih keimanan dan harapan, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah ia lakukan."
Seperti kita ketahui, bahwa ibadah pada malam ini sama nilainya dengan kita beribadah seribu bulan lamanya. Dan doa yang paling afdhol (paling utama) diucapkan pada malam itu adalah: "Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun dan Pemurah serta sangat suka memaafkan. Maka ampunilah kesalahan-kesalahan kami, ya Allah. (Allaahumma innaka 'afuwwun kariim, tuhibbu al-'afwa fa'fu 'annaa yaa kariim).” Diriwayatkan: barang siapa yang shalat Maghrib dan Isya' berjama'ah pada malam Lailatul Qadar itu, maka ia telah mendapatkan sebagian besar keutamaan malam Lailatul Qadar itu. Riwayat yang lain mengatakan, "Siapa yang shalat Isya' berjama'ah pada malam Lailatul Qadar itu, seakan-akan ia telah menghidupkan separuh malam tersebut, dan bila ia menunaikan shalat Subuhnya, maka ia telah menyempurnakan seluruh malam Lailatur Qadar tersebut.
Itulah beberapa jejek Nabi pada bulan Ramadlan, yang pada dasarnya beliau mengajarkan umatnya agar bersungguh-sungguh meraih kebaikan-kebaikan yang ada padanya, dengan berbuat keta'atan, kebaikan, ibadah, terutama ibadah-ibadah sosial, seperti menolong orang lain, meringankan beban hidup orang lain, menyantuni anak yatim dan orang-orang yang papa atau memberi makan orang yang akan berbuka puasa. Di samping itu beliau juga mengajarkan umatnya agar menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan munkar, makruh, dan mubah, apalagi yang haram. Bahkan beliau memperingatkan dengan sabdanya: "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan keji atau kotor (seperti berdusta, membicarakan orang lain atau mengadu domba), maka tidak ada artinya puasanya itu, kecuali ia hanya merasakan lapar dan dahaga saja."

Jumat, 15 Juni 2012

Air Mata Karena Allah

”Tidak akan masuk neraka orang menangis kerana takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya” (HR Turmudzi). Begitu sabda Nabi yang menegaskan suatu keistimewaan yang diterimakan kepada orang yang mampu meneteskan air matanya karena ketakwaannya kepada Allah.
Penekanan takwa bukan hanya karena rasa takut merupakan salah satu wujudnya, tetapi sekaligus merupakan penegas bahwa air mata yang menetes bukan sekedar akibat dari beban berat batin dan pikiran. Biasanya orang mudah menangis saat mengadu kepada Allah terkait dengan suatu musibah yang dialami, tetapi air matanya sukar menetes jika dia dalam keadaan senang.
Yang disebut terakhir ini bukan termasuk yang dimaksud Nabi dalam sabdanya di atas. Tetapi air mata yang menetes dari rasa kerendahan, kekerdilan, dan kelemahan seorang hamba di hadapan Tuhannya, yang berimplikasi pada sikap pasrah dan taat. Karena pada hakekatnya tidak ada daya bagi manusia untuk menghindar dari perbuatan maksiat dan kekuatan untuk kerbakti selain karena bantuan Allah. Inilah makna la haula wala quwwata illa bi Allah.
Imam Abdur Rahman bin Ahmad al-Qadli, dalam kitab Daqa'iqul Akhbar Kitab Daqa’iqul Akhbar (Detil-Detil Berita), subuah kitab yang berisi ulasan kehidupan “metafisik” dengan pendekatan yang amat “fisikal,” menuturkan bahwa akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat nanti dalam keadaan sangat berat timbangan kejahatannya dan telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka.
Salah satu daripada rambut-rambut matanya berkata, ”Wahai Tuhanku, Rasul-Mu, Muhammad, telah bersabda, siapa yang menangis kerana takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku menangis kerana amat takut kepada-Mu.”
Allah akhirnya mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka berkat sehelai rambut yang pernah menangis kerana takut kepada Allah. Malaikat Jibril mengumumkan kejadian itu kepada seluruh manusia, dengan berkata, ”Telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut.”
Imam Al-Ghazali, dalam kitab, Bidayatul-Hidayah (Menjelang Hidayah), juga menceritakan bahwa pada hari kiamat nanti, Allah akan mengeluarkan neraka jahanam dengan disertai suara nyala apinya yang gemuruh. Suara itu membuat semua orang berlutut kerana takut dan sedih terhadap apa yang akan menimpanya.
Allah lalu berfirman, "Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kau kerjakan." (QS. 45: 28).
Hampir saja nyala api itu menghampiri mereka. Semua orang, bahkan para nabi, memohon kepada Allah agar diselamatkan. ”Diriku, diriku.” (selamatkanlah diriku Ya Allah). Begitu kata-kata yang meluncur dari mulut-mult mereka. Hanya Nabi Muhammad yang mengucap ”Umatku, umatku.”
Diterangkan bahwa suara nyala api neraka itu dapat didengar sejauh 500 tahun dalam perhitungan perjalanan di dunia. Pada saat itu nyala api neraka muncul membentuk gumpalan-gumpalan besar bak gunung-gunung. Umat Nabi Muhammad berusaha menghalanginya dengan berkata, ”Wahai api! Demi hak orang-orang yang salat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusuk, demi hak orang-orang yang berpuasa, supaya kamu kembali.”
Namun api neraka itu tetap tidak mau beranjak. Lalu Jibril berkata, ”Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Muhammad.” Kemudian Jibril membawa semangkuk air dan Nabi meraihnya. Berkata Jibril, ”Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya.” Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, api itu padam seketika.
Setelah itu Nabi bertanya kepada Jibril, ”Wahai Jibril, Apakah air itu?” Maka Jibril berkata, ”Itulah air mata orang yang durhaka di kalangan umatmu yang menangis kerana takut kepada Allah. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu.” Maka padamlah api itu dengan izin Allah.
Begitulah keistimewaan menangis yang didasari rasa takut kepada Allah. Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa cucuran air mata seseorang tergantung pada apa yang dirasakan. Jika timbul karena rasa tunduk kepada keperkasaan Allah maka menjadi tangis karena takut kepada-Nya, dan jika timbul karena mengagumi dan mengharapkan keindahan-Nya maka menjadi tangis rindu kepada-Nya.
Allah mengistimewakan orang-orang yang menangis karena takut kepada-Nya dengan menjamin keselamatan baginya. Mereka adalah yang tersungkur dan bersujud seraya mencucurkan air mata karena perasaan tunduk dan patuh kepada Allah, mendengar ayat Allah dengan sikap mengagungkan sehingga memberi pengaruh dalam jiwanya berupa iman, harapan, rasa takut, yang kesemuanya mendorongnya menangis serta memohon ampun kepada-Nya (QS. 5: 83).

Kamis, 07 Juni 2012

Hinanya Meminta-minta

Nabi pernah menjelaskan tentang keutamaan bekerja dan hinanya perilaku meminta-minta sebagaiman diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Abu Dawud. Nabi bersabda,  “Sesungguhnya mencari kayu bakar dan lalu menjualnya adalah lebih baik daripada meminta-minta yang berarti meletakkan satu noktah hitam di wajahmu pada hari kiamat kelak.”
Imam Anas bin Malik (penulis kitab al-muwaththa’) menuturkan sebuah kisah yang menjadi latar belakang (asbabul wurud) disabdakannya hadis ini. Pada suatu saat ada seorang lelaki dari kalangan Anshar mendatangi Nabi untuk meminta-minta. Nabi lalu bertanya pada lelaki itu, “Apakah di rumahmu ada sesuatu?”
“Ya, ada hils (alas duduk) dan bejana untuk minum.” Jawab lelaki itu.
“Bawalah ke sini benda-benda itu,” Suruh Nabi kemudian kepada lelaki Anshar itu.
Sesaat kemudian lelaki itu datang dengan membawa hils dan bejana. Nabi lalu menawarkan benda-benda tersebut kepada para sahabat barangkali ada yang berminat untuk membelinya. Barang itu kemudian laku seharga dua dirham.
Nabi lalu berkata kepada lelaki itu, “Satu dirham gunakan untuk membeli makanan dan berikan kepada keluargamu, dan yang satu dirham sisanya gunakan untuk membeli kapak. Setelah itu datang kembali kepadaku dengan membawa kapak yang telah kamu beli.”
Lelaki itu segera melaksanakan perintah Nabi. Dan setelah ia kembali menghadap Nabi dengan membawa sebuah kapak, Nabi kemudian mengikatkan kapak tersebut pada sepotong kayu sebagai pegangan, sebelum kemudian beliau berkata, “Pergi dan carilah kayu bakar, lalu juallah. Aku tidak ingin melihatmu selama 15 hari”.
Dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, lelaki itu datang lagi dengan membawa sepuluh dirham. Uang itu ia belikan pakaian dan makanan. Nabi lalu berkata, “Ini lebih baik daripada pergi meminta-minta yang berarti meletakkan satu noktah hitam di wajahmu pada hari kiamat kelak.”
Paling tidak ada tiga pelajaran yang dapat dimabil dari hadis serta asbabul wurud-nya tersebut. Pertama, sikap terhadap kerja. Orang tidak bekerja atau menganggur bisa jadi ia tidak memiliki pekerjaan. Atau ada yang sudah memiliki pekerjaan tetapi ia gampang bosan terhadap pekerjaannya. Tetapi ada juga orang yang memang tidak mau bekerja meski sebenarnya banyak yang bisa dikerjakan. Dan parahnya, kadang ia justru lebih suka meminta-minta. Malah meminta-minta ini dijadikan pekerjaannya baik secara langsung atas nama pribadi atau mengatasnamakan suatu institusi sosial.
Terhadap orang-orang seperti ini Islam memberikan nasehat bahwa kerja itu harus dipandang sebagai ungkapan aktualisasi diri. Dengan demikian kerja tergolong sebagai jihat yang harus dilakukan. Inilah cara Islam dalam membentuk etos kerja, yaitu harus dmulai dengan pembentukan cara pandang (paradigma) terhadap kerja itu sendiri.
Kedua, merubah cara pandang. Nabi dengan sangat brilian telah mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap kerja. Tatkala lelaki Anshar tersebut meminta-minta padanya, beliau tidak langsung memberi, juga tidak langsung memberinya nasihat.
Tetapi Nabi lebih memilih untuk berusaha memberdayakan potensi yang dimiliki orang tersebut dan mengajaknya untuk berperan aktif dalam menyelesaikan persoalannya berupa ketidakmampuan untuk bekerja dengan semestinya. Setelah Nabi  memberikan tenggang waktu dan kesempatan pada lelaki tersebut untuk berusaha, barulah ia memberikan wejangan tentang hinanya meminta-minta dan bagaimana caranya seorang muslim bekerja.
Ketiga, Islam tidak memadang rendah suatu pekerjaan, walau hanya sekadar menjadi pencari kayu bakar. Islam hanya memandang hina pekerjaan yang dilakukan dengan cara salah, merendahkan diri seperti mengemis, ataupun yang merugikan orang lain.
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda: “Jika seseorang di antara kamu sekalian mau mengambil dan membawa seikat kayu bakar di punggungnya dan lalu menjualnya (untuk memperoleh penghasilan), itu akan lebih baik daripada meminta-minta pada orang lain.” (Bukhari).

Kamis, 24 Mei 2012

Kaya Itu Penting?


          Seorang mukmin sejati tidak menggantungkan hidupnya pada materi. Karena itu tidak jauh berbeda baginya antara hidup dalam gelimangan harta dengan serba kekurangan. Keduanya sama-sama disikapi sebagai rahmat Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada, disyukuri dan disabari.
Fakta bahwa kekayaan acap kali membuat orang pongah dan lalai, dan kemiskinan tak jarang membuat orang putus asa dan kadang malah menjerumuskan pada perilaku kufur, tidak lain merupakan efek dari sikap menggantungkan hidup pada materi.
Pola hidup demikian jelas tidak sesuai dengan hakikat penciptaan materi (baca: dunia) bagi manusia, yaitu sebagai fasilitas yang harus dikelola untuk menjalankan upaya secara terus-menerus mendekatkan diri kepada Allah, baik dalam dimensi personal maupun sosial.
Di sinilah relevansi peran kekhalifahan manusia. Sepatutnya manusia mengelola dunia untuk kepentingan kemanusiaan dan perjuangan agama. Dalam hal ini, terdapat satu keteladanan dari Nabi Sulaiman yang terkenal dengan kekayaan yang melimpah.
Dikisahkan, seusai membangun Baitul Maqdis di Palestina, Nabi Sulaiman melakukan perjalanan ke Yaman. Setiba di sana, ia bermaksud menyuruh burung hud-hud (sejenis belatuk) mencari sumber air. Ia pun memanggilnya. Tetapi aneh, ia tidak segera datang seperti biasanya. Nabi Sulaiman pun marah.
Tak lama kemudian burung hud-hud datang menghadap. Setelah meminta maaf ia mengatakan bahwa keterlambatannya disebabkan ia sibuk mengamati sesuatu yang penting untuk diketahui oleh Nabi Sulaiman.
Segera ia melaporkan kalau ia menemukan sebuah kerajaan di negeri Saba yang dipimpin oleh seorang perempuan yang bernama Ratu Balqis. Ia hidup dalam gelimangan harta serta mempunyai singgasana yang besar dan megah. Ia dan kaumnya menyembah matahari.
Nabi Sulaiman segera menindaklanjuti informasi itu dengan mengirim surat nasihat kepada Ratu Balqis agar ia menyembah Allah. Burung hud-hud sendiri yang disuruh membawa surat itu. Seusai membaca surat itu Ratu Balqis mengirim utusan bersama hadiah kepada Nabi Sulaiman. Sesampainya di hadapan Nabi Sulaiman, utusan itu menyampaikan pesan Ratu Ratu Balqis: apakah patut kamu menolong aku dengan harta?
Nabi Sulaiman pun mengirim jawaban untuk Ratu Balqis: sesungguhnya apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. “Kembalilah kalian. Sungguh kami akan mendatangi kalian dengan bala tentera yang tidak mampu kalian lawan, dan kami pasti akan mengusir kalian dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan kalian akan menjadi tawanan yang tidak berharga,” kata Nabi Sulaiman.
Utusan itu kembali ke negeri Saba dan melaporkan semua yang terjadi. Ratu Balqis kelihatan gentar, sehingga ia ingin berjumpa sendiri dengan Nabi Sulaiman. Keinginan Ratu Balqis ini berhasil diketahui Nabi Sulaiman terlebih dulu. Ia pun segera memerintahkan tenteranya yang terdiri dari manusia, hewan dan jin untuk membuat persiapan guna menyambut kedatangan Ratu Balqis.
Nabi Sulaiman juga memerintahkan Ifrit supaya membawa singgasana Ratu Balqis ke istananya. Setibanya Ratu Balqis Nabi Sulaiman bertanya kepadanya, “Apa seperti ini singgasanamu? “Ya, memang sama seperti ini.” Jawab Ratu Balqis sebelum kemudian ia dipersilakan untuk masuk ke istana Nabi Sulaiman.
Namun, ketika berjalan di istana Nabi Sulaiman, pandangan Ratu Balqis tertipu oleh kilauan lantainya yang disangkanya berupa genangan air, sehingga ia mengangkat kainnya hingga kedua betisnya terlihat.
Melihat kejadian itu, Nabi Sulaiman berkata, “Lantai ini tampak licin karena dibuat dari kaca.” Peristiwa ini membuat Ratu Balqis merasa sangat malu, dan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zalim kepada diriku sendiri dan aku berserah diri bersama Nabi Sulaiman dan kepada-Mu, Tuhan semesta alam.”
Ratu Balqis yang telah menyadari kelemahannya itu kemudian memohon ampun atas segala kealpaan yang selama ini diperbuatnya. Ia pun kemudian berserah diri kepada Nabi Sulaiman untuk diperistri.
Demikianlah kisah keangguhan Ratu Balqis yang ditundukkan oleh kekayaan Nabi Sulaiman. Sangat berbeda dengan Nabi Sulaiman yang justru menggunakan kekayaannya untuk memperjuangkan kalimat tauhid.
Oleh karenanya, seorang mukmin boleh kaya, bahkan di era sekarang tampaknya kaya ini sangat penting karena masyarakat hampir menilai segala hal dari sisi ekonomi. Salah satu implikasinya, perkataan orang kaya akan lebih mudah diterima dan diikuti dibanding perkataan kyai sekalipun.
Namun yang patut diingat adalah jangan sampai penerimaan dan keikutan masyarakat terhadap orang kaya itu karena kekayaannya, bukan semata-mata perkataannya memang baik dan benar. Karena hal ini justru berimplikasi pada hilangnya keimanan, seperti telah dinyatakan Nabi bahwa orang yang tunduk dan patuh kepada orang kaya karena kekayaannya seperempat agamanya telah hilang. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Kamis, 10 Mei 2012

Takut Hisab

Tampaknya tidak salah jika dikatakan Abu Bakar al-Siddiq adalah orang yang paling baik setelah Nabi. Bukankah ia yang disuruh Nabi untuk menggantinya sebagai imam salat saat beliau sedang sakit dan mendekati ajalnya. Ia juga yang akhirnya dinobatkan menjadi khalifah untuk yang pertama kali dalam sejarah Islam.
Tidak hanya itu, Abu Bakar juga menempati urutan pertama dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk surga (al-‘asyarah al-mubasysyar bi al-jannah). Bahkan Nabi pernah menyampaikan kalau nama Abu Bakar akan dipanggil dari setiap pintu surga dan ia merupakan seorang pengikutnya yang pertama akan memasukinya.
Tetapi semua itu tidak membuatnya terlena hingga menggeser sikap takwanya kepada Allah. Paling tidak hal ini tercermin dalam ungkapan-ungakap yang menunjukkan rasa takutnya kepada Allah yang bersemayam kuat di dalam hatinya.
Sekedar menyebut contah, Abu Bakar bernah mengungkapkan, “Alangkah baiknya kalau aku menjadi sebatang pohon yang ditebang dan dijadikan kayu bakar.” “Alangkah baiknya kalau aku ini menjadi sehelai rumput yang riwayat hidupnya akan tamat apabila dimakan oleh seekor binatang ternak.”
Pernah pada suatu hari ia berada di suatu taman. Ia melihat seekor burung yang sedang berkicau. Ia pun berkata, “Wahai burung. Sungguh bahagia kamu. Kamu makan, minum, dan terbang semaumu tanpa pernah punya perasaan takut pada hari perhitungan (hisab). Aku ingin menjadi seperti kamu, burung.”
Abu Bakar juga pernah berselisih paham dengan Rabi’ah Aslamiyah, sebagaimana dituturkan oleh Rabi’ah sendiri. Saat itu Abu Bakar sempat mengeluarkan kata-kata yang agak kasar. Tetapi saat itu juga ia menyadari kesalahannya dan memohon kepada Rabi’ah untuk membalasnya dengan umpatan yang sama.
Sudah tentu Rabi’ah enggan memenuhi permintaan Abu Bakar tersebut. Tapi anehnya, Abu Bakar malah mendesak dan mengancam untuk mengadukannya kepada Nabi. Rabi’ah tetap menolak. Abu Bakar kemudian pergi meninggalkan Rabi’ah.
Beberapa orang kawan Rabi’ah yang sejak awal menyaksikan peristiwa itu mulai berkomentar, “Aneh sekali orang itu. Dia yang melakukan kesalahan, malah dia sendiri yang mengancam untuk mengadu kepada Nabi.”
“Kamu tahukah siapa dia?” tanya Rabi’ah. “Dia adalah Abu Bakar. Menyinggungnya berarti menyinggung Nabi. Menyinggung Nabi berarti menyinggung Allah. Kalau perbuatanku menyinggung Allah, siapa yang akan mampu menyelamatkanku,” tegasnya.
Rabi’ah kemudian mengajak kawan-kawannya pergi menghadap Nabi untuk mengadu. Nabi kemudian berkata, “Keenggananmu mengeluarkan kata-kata kasar itu sudah tepat, tetapi alangkah lebih baik kalau untuk mengurangi kegelisahan batinnya kamu berkata ‘semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar’.”
Begitulah sebagian contoh sikap takwa yang ditunjukkan oleh Abu Bakar al-Siddiq. Ia selalu mengawatirkan pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak di hari kemudian. Perasaan khawatir ini membuatnya selalu berhati-hati dalam bertindak. Meski sebagai manusia ia tidak luput dari kesalahan.
Sikap dasar ini pula yang membawa keberhasilannya selama menjabat sebagai khalifah. Sudah tentu sikap ini merupakan satu teladan yang sepatutnya ditiru oleh pemimpin-pemimpin saat ini, terutama mereka yang beragama. Mereka bisa saja melakukan manipulasi pertanggungjawaban kepemimpinannya di dunia ini, tetapi mereka jelas tidak mampu mengelabuhi mata Rakib dan Atid yang selalu mengawasi setiap langkahnya.
Barangkali beratnya tanggungjawab ini yang membuat para sahabat, terutama al-khulafa’ al-rasyidun, saat itu enggan untuk dinobatkan sebagai khalifah. Sehingga untuk memaksanya para sahabat bersepakat untuk menggunakan mekanisme baiat. Dengan kata lain, mekanisme baiat ini menjadi pilihan alternatif saat tidak mungkin dilakukan pemilihan dan atau penunjukkan.
Hal ini sangat jauh dengan fenomena saat ini, di mana seseorang akan bersedia melakukan apa saja agar ia dipilih menjadi pemimpin. Kalau dulu beratnya tanggungjawab, terutama saat yaum al-hisab, menjadi pertimbangan utama. Tapi kini justru orang akan berpikir ia akan dapat melakukan apa saja kalau ia menjadi seorang pemimpin.
Ungkapan ini bukan berarti merupakan satu simpul bahwa apa yang terjadi saat ini tidak ada sisi baiknya sama sekali. Tetapi lebih menekankan agar bangsa yang religius ini tidak melupakan agama dan keberagamaannya saat ingin merebut kursi kepemimpinan. Sebab dampaknya tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi masyarakat secara umum.
Patut diingat, Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu saat melihat anak kecil yang menjerit kelaparan sementara ibunya hanya mengelabuhi harapannya dengan menanak batu, bukan karena ia takut reputasi kepemimpinannya hancur karena prestasi kepemimpinannya yang buruk. Tetapi lebih karena sikap takwanya. Karena takut pada pertanggungjawabannya kelak pada yaum al-hisab. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Kamis, 03 Mei 2012

Energi Hati

Di salah satu sudut pasar kota Madinah terdapat seorang pengemis Yahudi buta. Setiap kali ada orang yang mendekatinya dia selalu berkata, ”Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.”
Pada setiap pagi ada seorang lelaki yang mendatanginya dengan membawa makanan. Tanpa berkata sepatah kata pun lelaki itu menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Pengemis itu juga selalu berpesan agar lelaki itu tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.
Pekerjaan rutin itu terus dilakukan lelaki itu hingga dia dipanggil menghadap Tuhannya, meninggal dunia. Sepeninggalnya tidak ada lagi orang yang membawakan makanan kepada pengemis Yahudi buta itu.
Pada suatu hari Abu Bakar berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah. Dia bertanya kepada Aisyah, ”Anakku adakah sunah kekasihku yang belum aku kerjakan?” ”Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunah, hampir tidak ada satu sunah Nabi pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunah saja.” Jawab Aisyah. ”Apakah Itu?” tanya Abu Bakar. ”Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” kata Aisyah.
Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah dengan suara yang agak tinggi, ”siapakah kamu!” Abu Bakar menjawab, ”Aku orang yang biasa mendatangimu. Maaf agak lama aku tidak mendatangimu.”
”Bukan! kamu bukan orang yang biasa mendatangiku,” jawab si pengemis itu. ”Bila dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan dengan mulutnya, setelah itu dia berikan padaku dengan mulutnya sendiri.” Pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya, dia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, ”Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Rasulullah.”
Pengemis itu tercenganga mendengar cerita Abu Bakar. Dia pun menangis dan berkata, ”benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi dia tidak pernah sekali pun memarahiku. Dia malah mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, dia begitu mulia....” Pengemis Yahudi buta itu akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar.
Begitulah salah satu teladan Nabi tentang energi hati. Kekuatan hatinya telah membuatnya mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menebarkan kebaikan kepada orang lain, termasuk orang-orang secara terang-terangan menunjukkan sikap tidak senang dan memusuhinya.
Semua itu dilakukan Nabi bukan semata-mata karena terpaksa. Maksudnya, bukan berarti sebenarnya Nabi enggan melalukan pekerjaan rutin itu, tetapi karena dia memiliki tujuan untuk menampakkan perilakunya baiknya kepada orang lain sehingga semua orang akan mengikutinya. Tegasnya pekerjaan itu menjadi salah satu bentuk strategi dakwahnya.
Bukan demikian halnya, Nabi melakukan pekerjaan itu dengan tulus. Tidak ada sedikit pun pamrih agar dia dianggap orang baik. Semata-mata karena kebaikan hati Nabi yang mendorongnya untuk selalu memberikan perhatian kepada orang lemah, serta selalu berusaha untuk menjadi orang yang memiliki manfaat bagi orang lain.
Tuhan mencipta akal dan hati bagi manusia dengan fungsi masing-masing yang spesifik. Bagi orang yang beragama seharusnya menjadikan hati sebagai fokus utama perhatiannya, bukan akal, sebab ia dekat dengan roh yang suci, dan menjadi penggerak utama bagi manusia.
Tetapi kebanyakan orang justru lebih mengutamakan akal daripada hati. Akal dianggap merupakan alat utama bagi manusia untuk menunjukkan eksistensinya. Pandangan mereka mendapat justifikasi dari ilmu logika (mantiq) yang memposisikan akal sebagai pembeda manusia dengan makhluk yang lain.
Pandangan umum ini biarlah seperti adanya. Tetapi bagi orang yang beragama tentu tetap harus menomerduakan akal setelah hati. Sebab baik atau buruk manusia sangat tergantung pada hatinya, sebagaimana penegasan Nabi bahwa  ”Di dalam tubuh manusia terdapat segumpal darah, jika ia baik maka sekujur tubuh akan baik, tetapi jika ia buruk maka sekujur tubuh akan buruk. Ingat segumpal darah itu adalah hati.”
Sampai di sini jelas bahwa kekuatan energi hati akan mampu menandingi dan mengalahkan kekuatan akal. Terkait dengan karakter buruk manusia misalnya, sangat susah untuk merubahkanya dengan hanya menggunakan pendekatan akal. Tetapi jika hatinya dapat ditata maka dengan sendirinya potensi karakter buruk itu tidak mendapat bagian untuk digunakan.
Belum lagi efek munafik yang ditimbulkan oleh akal. Contoh yang amat jelas dapat disaksikan pada tayangan yang mempertontonkan ungkapan bawah sadar seseorang yang terhipnotis di televisi. Ungkapan bawah sadar yang jujur itu berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ungkapannya di saat dia sadar. Hal ini terjadi tidak lain karena faktor akal.