Jumat, 31 Agustus 2012

Aroma Dosa

“Seandainya dosa itu mempunyai aroma, tentu semua orang tidak akan senang duduk bersama saya.“ kata ini pernah diungkapkan oleh Muhammad bin Wahsy dalam muhasabahnya (perenungannya).
Dapat dibayangkan seandainya dosa mempunyai aroma, sudah tentu semua orang tidak akan bisa hidup tenang,. Kalau saja dosa memberi efek samping bau busuk yang mengepul dari pori-pori menyertai aliran keringat, sudah tentu seseorang tidak akan bisa hidup tenang karena ia selalu dihantui rasa malu ketika bertemu dengan orang lain. Pun orang lain juga enggan untuk mendekatinya.
Juga seandainya dosa memiliki efek samping terhadap anggota tubuh. Misalnya seseorang yang memakan hasil korupsi perutnya tiba-tiba buncit; seseorang yang selingkuh atau berzina hidungnya menjadi belang; seseorang yang suka melihat aurat wanita tiba-tiba matanya bengkak, sudah tentu semua orang akan berusaha keras untuk menghindari dosa.
Al-Ghazali pernah membuat perumpamaan dosa, yaitu bagaikan debu yang menempel di kaca. Sebuah kaca yang terkena debu jelas kilaunya akan hilang. Dan jika kaca itu adalah kaca cermin, maka jelas tidak akan dapat digunakan untuk bercermin. Untuk itu, ia menyarankan kepada semua orang agar pandai-pandai membersihkan kacanya.
Kaca cermin digunakan al-Ghazali sebagai perumpamaan hati dan jiwa manusia. Potensi penerangnya akan menjadi buram, kabur dan gelap kerana semakin bertambahnya dosa yang dilakukan, sesuai dengan firman Allah, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams: 9-10).
Sebaliknya, hati dan jiwa yang bersih dapat memberi efek positif berupa rasa damai dan tenteram. Sikap dan laku orang yang memiliki hati dan jiwa yang bersih dapat menyejukkan dan membawa pada suasana damai dan penuh kasih sayang. Dalam rumah tangga misalnya, ia akan membawa pada kerukunan, ia juga dapat menciptakan suasana yang kondusif di tempat kerjanya, dll.
Dapat dibayangkan jika hidup ini dipenuhi orang-orang yang berhati dan berjiwa bersih, sudah tentu akan damai dan tenteram. Suasana damai dan kasih sayang akan begitu terasa. Kehidupan keluarga penuh dengan nila-nilai kerukunan, di tempat kerja tercipta suasana keharmonisan (kondusif), saling tegur sapa berlangsung sedemikian akrab, dengan tutur kata yang santun.
Ada tiga hal yang tidak akan kembali, Kata-kata yang telah diucapkan, waktu yang telah berlalu, dan kesempatan yang telah terabaikan. Oleh karenanya, sudah seharusnya siapa pun tidak menyia-nyiakan umur dengan hanya menimbun dosa, tetapi mengisinya dengan perbuatan-perbuatan baik.
Setiap manusia pasti menginginkan hidup yang damai. Simbol kedamaian di dalam agama adalah surga. Bagi orang yang menginginkannya disarankan untuk selalu meningkatkan kualitas taqwa. Untuk itu diperlukan gairah yang optimistis, menjadi manusia yang selalu condong untuk melakukan hal-hal baik (amal saleh), sebagaimana difirmankan Allah :
“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga, dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS. An Nisa: 124).
Seseorang yang telah memiliki kecenderungan pada kebaikan dengan dasar keihlasan, kejujuran, dan keinginan untuk bertemu dengan Allah, ia akan terhindar dari noda-noda, kepalsuan, perbuatan-perbuatan buruk. Tegasnya benteng dosa adalah taqwa.
Sampai di sini patut kiranya memperhatikan sabda Nabi dalam rangka menjawab pertanyaan Abu Darda, “Ya Rasulullah, mungkinkah seorang mukmin mencuri?” Kata Nabi, “Ya, kadang-kadang”. Ia bertanya lagi, “Mungkinkah mereka (mukmin) berzina?“ Kata Nabi, “Mungkin saja”.
Abu Darda bertanya lagi: “Mungkinkah mereka (mukmin) berdusta?” ”Nabi menjawab dengan ayat Alquran, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl: 105)
Dengan demikian, seorang mukmin yang sudah tercium bau kebohongannya ia bukanlah seorang mukmin, melainkan hanya orang muslim. Hal itu sesuai dengan firman Allah, “Bahwa orang-orang Arab Baduwi itu berkata: Kami telah beriman. (Allah berfirman) Katakanlah (kepada mereka): kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk. karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS. Al Hujuraat: 14)
Seorang mukmin yang kuat dan muttaqi (selalu menjaga ketaqwaannya) tidak akan bisa tercium aroma dosanya, karena ia mampu mengontrol dirinya dengan menghindari tempat-tempat maksiat, mendobrak belenggu nafsu, dan ingin segara masuk ke dalam hati nurani, sebab di saat itu ia akan menemukan cahaya ilahi yang mungkin sempat terlepas dari dirinya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Kamis, 30 Agustus 2012

Berkat Jalinan Cinta Kasih

Setelah Nabi Musa wafat, Nabi Yusya’ membawa Bani Israil ke luar dari kota mereka. Mereka berjalan hingga menyeberangi sungai Yordania. Dan akhirnya mereka sampai di kota Jerica, sebuah kota yang mempunyai pagar dan pintu gerbang yang kuat, bangunan-bangunan yang tinggi, dan berpenduduk padat.
Mereka mengepung kota itu sampai enam bulan lamanya. Setelah dirasa memungkinkan untuk melancarkan serangan, mereka bersepakat untuk melakukan penyerbuan ke dalam kota. Suara pekikan takbir dan tiupan terompet memicu semakin membulatnya semangat mereka, hingga pagar kota yang kokoh itu berhasil mereka robohkan.
Bisa dibayangkan yang terjadi berikutnya; sebuah pertempuran yang sengit tak bisa dihindari. Nabi Yusya’ dan Bani Israil berhasil memenangkan peperangan itu. Sebanyak dua belas ribu pria dan wanita berhasik mereka bunuh. Sejumlah harta rampasan juga berhasil mereka kumpulkan. Setelah peristiwa itu, mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa, hingga mereka berhasil mengalahkan sebelas raja dan raja-raja yang berkuasa di Syam.
Dikisahkan, di antara peperangan yang dilakukan oleh Nabi Yusya’ dan Bani Israil, ada yang terjadi pada hari Jumat. Sampai sore hari peperangan belum juga usai, sementara matahari sudah hampir terbenam. Hari Jumat akan berlalu, akan berganti hari Sabtu, di mana pada hari itu, menurut syariat mereka, mereka dilarang melakukan peperangan.
Untuk itu Nabi Yusya’ berkata, “Wahai matahari, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Allah, begitu pula aku. Aku berjihad mengikuti perintah-Nya. Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam dulu.” Allah kemudian menahan matahari agar tidak terbenam sampai dia berhasil memenangkan peperangan, dan memerintahkan bulan agar tidak menampakkan dirinya.
Kisah ini relevan dengan sabda Nabi, seperti yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Sesungguhnya matahari itu tidak pernah bertahan tidak terbenam hanya karena seorang manusia kecuali untuk Yusya’, yaitu pada malam-malam dia berjalan ke Baitul Maqdis (untuk jihad).” (HR. Ahmad)
Dalam riwayat Imam Muslim, Abu Hurairah juga menuturkan bahwa Nabi bersabda, “Ada seorang nabi dari nabi-nabi Allah yang ingin berperang. Dia berkata kepada kaumnya, ‘Tidak boleh ikut bersamaku dalam peperangan ini seorang laki-laki yang telah berkumpul dengan istrinya dan dari itu dia mengharapkan anak tapi masih belum mendapatkannya, begitu pula orang yang telah membangun rumah tapi atapnya belum selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau unta bunting yang dia tunggu kelahiran anaknya.’
Nabi itu kemudian berangkat berjihad. Dia sudah berada di dekat daerah yang dituju saat Ashar telah tiba atau hampir tiba. Maka dia berkata kepada matahari, ‘Hai matahari, engkau tunduk kepada perintah Allah dan akupun juga demikian. Ya Allah, tahanlah matahari itu sejenak agar tidak terbenam.’ Maka Allah menahan matahari itu hingga Nabi itu menaklukan daerah tersebut.
Setelah itu balatentaranya mengumpulkan semua harta rampasan di sebuah tempat, kemudian ada patir yang datang menyambar tetapi tidak membakarnya. Lalu Nabi itu berkata, ‘Di antara kalian ada yang khianat, masih menyimpan sebagian dari harta rampasan. Aku harap dari setiap kabilah ada seorang yang bersumpah padaku.’
Mereka kemudian datang satu persatu untuk disumpah. Dan secara tiba-tiba kedua tangan Nabi itu lengket pada tangan salah seorang di antara mereka. Dia kemudian berkata, ‘Di antara kalian ada yang berkhianat, aku minta semua orang di kabilahmu untuk bersumpah.’ Satu persatu dari mereka kemudian disumpah. Tiba-tiba tangan Nabi itu lengket pada tangan dua atau tiga orang. ‘Kalian telah berkhianat,’ katannya pada mereka.
Lalu mereka pun mengeluarkan emas sebesar kepala sapi. Emas itu kemudian dikumpulkan dengan harta rampasan lain yang telah dikumpulkan sebelumnya di sebuah lapangan. Tiba-tiba datanglah api menyambar dan melalapnya. Harta rampasan memang tidak pernah dihalalkan untuk umat sebelum kita. Dan dihalalkan untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita.”
Setelah Baitul Maqdis dapat dikuasai oleh Bani Israil, maka mereka hidup di dalamnya dan di antara mereka ada Nabi Yusya’ yang memerintah mereka dengan kitab Allah, Taurat, sampai akhir hayatnya. Dia kembali ke hadirat Allah saat berumur seratus dua puluh tujuh tahun, dan masa hidupnya setelah wafatnya Nabi Musa adalah dua puluh tujuh tahun.
Salah satu hikmah yang dapat diambil dari kisah di atas adalah bahwa tertahannya matahari untuk tenggelam atas permintaan Nabi Yusya’ tampaknya bukan semata-mata anugerah Allah karena dia telah berjihad di jalan-Nya. Bukankah banyak orang yang tampak berjihat, tetapi doa-doanya terasa hampa!
Tampaknya ada faktor lain yang membuat doa Nabi Yusya’ mudah terkabul, yaitu kedekatannya dengan Tuhan secara spiritual dalam jalinan cinta-kasih. Hal ini yang membuat Tuhan tidak bisa menolak permintaan seorang hamba yang dicintai-Nya itu.
Dalam konteks perjuangan agama saat ini, aspek spiritual ini patut dikaji ulang. Lebih-lebih tingkat kemurnian perjuangan yang masih dalam tanda tanya besar. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Rabu, 29 Agustus 2012

Lebaran Bagi Koruptor

Tradisi berlebaran yang khas di negeri ini adalah halal bi halal. Tradisi ini sungguh merupakan tradisi yang sangat baik, mengingat ia dapat melengkapi kefitrahan setiap mukmin yang setelah melalui proses penghambaan yang utuh selama bulan Ramadan. Sebab jaminan kembali pada fitrah tersebut hanya terkait dengan dimensi vertikal (habl min Allah).
Taubat seorang mukmin yang diajukan kepada Allah di bulan Ramadan melalui serangkaian ibadah wajib dan sunat hanya menyangkut kesalahan dan dosa kepada Allah. Tegasnya Allah hanya mengampuni dosa yang terkait lang denganNya. Sementara kesalahan dan dosa yang berdimensi horizontal (habl min al-nas) masih ditangguhkan sampai orang yang bersangkutan menyelesaikannya.
Di sinilah letak nilai pentingnya tradisi halal bi halal, yaitu sebagai suatu upaya membersihkan diri dari kesalahan dan dosa horizontal. Dengan berhalal bi halal maka setiap mukmin akan benar-benar mampu naik tingkat ke dalam golongan orang-orang yang kembali pada fitrahnya dan orang-orang yang beruntung lagi bahagia (minal a’idin wal faizin).
Namun, yang patut diperhatikan adalah pelaksanaan halal bi halal itu sendiri. Seorang yang melakukan halal bi halal hanya bermotiv melestarikan tradisi, misalnya. Maka dia tidak mendapatkan apa-apa selain kenyataan  bahwa tradisi itu masih tetap lestari, di mana dia turut ambil bagian dalam pelestarian itu.
Ada yang hanya mengalir bagaikan air, hanyut dalam eforia bermaaf-maafan, tanpa dibarengi denga upaya membersihkan diri dari kesalahan dan dosa horizontal. Pola ini yang nampaknya menjadi pilihan mayoritas umat mukmin di negeri ini, termasuk para penjahat dan para koruptor. Jika demikian halnya, maka jauh panggang dari apai. Artinya halal bi halal yang dilakukan belum mampu berfungsi sebagai pelengkap untuk mencapai kefitrahan.
Sebagaimana telah menjadi maklum bahwa ada kesalahan-kesalahan yang kita lakukan kepada orang lain atau sebaliknya yang mudah dimaafkan dan tidak mudah untuk dimaafkan. Yang pertama biasanya terkait dengan kesalahan-kesalahan kecil baik yang disengaja atau tidak. Sementara yang kedua terkait dengan hal-hal besar dan prinsipil. Sudah tentu kesalahan yang kedua ini tidak bisa selesai hanya dengan bermaaf-maafan tanpa adanya suatu upaya penyelesaian yang nayata.
Sampai di sini, kiranya patut kita membaca kembali ajaran Islam tentang taubat, sebab halal bi halal itu tidak lain adalah salah satu bentuk taubat. Taubat secara harfiah berarti kembali. Manusia yang pada dasarnya baik, dengan bertaubat dia akan kembali baik, setelah sekian lama terjerumus dalam keburukan.
Taubat juga ada yang terhitung serius/tulus (taubat nashuha), ada yang tidak. Untuk menilai tingkat keseriusannya paling tidak ada empat kreteria yang harus dipenuhi, yaitu 1) meninggalkan kesalahan dan dosa yang diperbuat dengan penuh kesadaran tentang keburukannya, 2) bersungguh-sungguh menyesalinya, 3) berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, dan 4) menggantinya dengan perilaku yang baik.
Keempat kreteria ini berlaku baik bagi dosa vertikal maupun harizontal. Bertaubat untuk kesalahan pertama hanya membutuhkan permohonan maaf (istighfar) kepada Allah. Tetapi untuk kesalahan yang kedua istighfar saja tidak cukup, harus dibarengi dengan penyelesaian secara tuntas hak-hak orang lain yang menjadi tanggungjawabnya.
Taubat seorang pencuri misalnya, di samping harus memohon ampunan kepada Allah, dia juga harus memohon maaf kepada seluruh korbannya dengan atau tanpa syarat, dan mengembalikan seluruh hasil curiannya. Jika korbannya sudah meninggal maka diselesaikan dengan ahli warisnya. Dan jika juga tidak ada maka dibelanjakan untuk kemaslahatan umat. Sama halnya dengan koruptor, karena keduanya sama-sama maling,.
Lebaran bagi koruptor tidak lain adalah moment untuk bertaubat. Karenanya dalam berhalal bi halal hendaknya dia membeberkan korupsi yang dilakukannya disertai dengan pengembalian seluruh hasil korupsinya, sekaligus turut menyelesaikan seluruh dampak sosio-ekonomi yang ditimbulkan oleh perbuatannya tersebut. Jadi tidak hanya cukup dengan permohonan maaf dan tetap membiarkan kerusakan sistem yang diakibatkan oleh perbuatannya.
Memang tampak berat, tapi setimpal dengan beratnya kejahatan yang dilakukan. Dan ini merupakan satu harga mahal yang harus dibayar demi mencapai kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat, seperti yang tertuang dalam do’anya setiap habis shalat (rabbana atina fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah).
Tetapi tampaknya bukan prasyarat yang cukup memberatkan ini yang membuat para koruptor enggan untuk bertaubat. Ketercorengan “harga diri” di hadapan masyarakat mengalahkan rasa malunya (haya’) di hadapan Allah. Alpa pada laranganNya agar tidak menjual agamanya demi kepentingan duniawi semata, dan tentang tanggungjawab personal di hadapanNya.
Penegasan terakhir tersebut meneguhkan sikap naif para koruptor “hidup adalah permainan.” Alih-alih mereka menampakkan kesadaran religiusnya saat berlebaran dan berhalal bi halal. Mereka malah menjadikannya sebagai bagian dari permainannya. Logika kembali pada fitrah dijadikan momentum untuk merasa bahwa dirinya benar-benar telah bersih, termasuk dari kejahatan korupsi. Sehingga pasca Idul Fitri korupsinya menjadi semakin menggila.

Rabu, 25 Juli 2012

Bulan Ibadah

          Salah satu sebutan bagi Ramadlan adalah “syahr al-‘ibadah” (bulan ibadah). Sebutan ini lebih didasarkan pada kebijakan Tuhan untuk melipatgandakan pahala setiap perbuatan baik yang dikerjakan oleh umat Islam di dalam bulan ini. Berbagai aktivitas ibadah terasa ringan bagi mereka untuk dikerjakan, hingga tak heran kalau masjid, musallah, maupun di tempat-tempat lain selalu ramai dengan aktivitas ibadah, seperti membaca al-Qur’an (tadarrus), shalat tarawih, i’tikaf, pengajian, dan lain-lain. Inilah salah satu keistimewaan bulan Ramadlan yang sampai sekarang dapat dirasakan.
            Dalam suasana ibadah yang sedang menguat ini, ada baiknya arti ibadah itu sendiri kembali direnungkan mengingat masih adanya sebagian orang yang memahaminya secara parsial dan artifisial, dalam pengertian ibadah hanya dipahami sebagai sederetan rutinitas ritual hingga banyak bidang ibadah yang belum banyak mendapat perhatian. Kondisi ini dapat berakibat pada munculnya sosok muslim yang kepribadiannya tidak seimbang. Contoh konkrit pribadi serupa ini adalah orang yang rajin menjalankan shalat tetapi dalam perilaku kesehariannya masih banyak ditemukan indikasi penyimpangan dari nilai moralitas Islam.
         Pijakan dasar nash tentang ibadah ini sangat banyak. Salah satunya adalah  pernyataan Tuhan bahwa Ia tidak mencipta manusia dan jin kecuali agar mereka beribadah kepada-Nya, dan penegasan Nabi bahwa ibadah merupakan hak Tuhan atas hambanya-Nya, yang apabila dipenuhi, Ia akan menjamin keselamatannya dari siksa-Nya.
        Kata ibadah itu sendiri berasal dari bahasa Arab “‘ibadah” yang berarti tunduk, patuh, dan merendahkan diri. Ibadah dalam pengertian ini merupakan implikasi fitrah manusia. Artinya manusia itu selalu mengejawantahkan ketundukannya terhadap sesuatu (tuhan). Sesuatu merupakan kata umum, bisa menunjukkan benda alamiah seperti patung, pepohonan, sungai, matahari, bulan, dan lain-lain, bisa juga menunjukkan bentuk ideologi seperti kapitalisme, sosialisme, komunisme, dan lain-lian. Kepatuhan seseorang hanya kepada hal-hal tersebut berarti ia telah menjadikannya sebagai tuhannya, relevan dengan sebutan al-Qur’an terhadap orang yang hanya menuruti nafsunya (tunduk dan patuh kepada selain Allah) sebagai orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhanya.
       Tetapi jelas bukan demikian yang dikehendaki Islam, karena ketundukan dan kepatuhan tersebut hendaknya hanya kepada Allah, sesuai dengan arti dasar Islam itu sendiri yaitu patuh dan pasrah hanya kepada Allah. Ibadah dalam pemahaman seperti ini sekaligus dapat menunjukkan tujuan utamanya, yaitu memperoleh kerelaan (ridla) Allah, sebab hanya kerelaan ini yang mampu menghantarkan pertemuan antara manusia dan Tuhannya nanti di akhirat, sesuai dengan janji-Nya bahwa “siapa saja yang ingin bertemu Tuhannya maka hendaknya ia melakukan amal perbuatan yang baik (amal saleh).” –Amal saleh yang dimaksud di sini tidak lain merupakan artikulasi ibadah.
     Untuk itu, ibadah membutuhkan sikap ikhlas, karena hakikat ikhlas adalah mengorientasikan ibadah hanya kepada ridla Tuhan. Berarti ibadah yang tidak disertai keikhlasan dengan sendirinya tidak berarti apa-apa bagi Tuhan, hingga implikasi bagi yang mengerjakannya juga nol. Dengan demikian keikhlasan merupakan salah satu wujud komitmen dari keimanan yang mendasari ibadah itu sendiri, atau keimanan yang dimanifestasikan dalam bentuk amal saleh.
        Adapun ibadah dalam makna terminologisnya adalah mengikuti ajaran Nabi yang berupa perintah dan larangan. Dan karena dalam perintah itu ada kategori wajib dan sunnah dan dalam larangan itu ada kategori haram dan makruh, maka secara praktis ibadah dapat diartikan sebagai tindakan mengerjakan kewajiban dan sunnah serta meninggalkan hal-hal yang haram dan makruh.
           Pengertian ibadah seperti ini jelas sangat longgar. Artinya seluruh perbuatan baik yang diniatkan menjalankan perintah Tuhan dan meninggalkan larangan-Nya tergolong ibadah. Kalau dalam al-Qur’an dan hadits banyak disebut tentang perintah dan larangan yang menyangkut seluruh totalitas manusia (hati, jiwa, raga, pikiran, dan harta), maka hal itu sekaligus menunjukkan sangat banyaknya ragam ibadah.
         Secara teknis, ibadah ada yang formal (muqayyadah), terikat aturan-aturan tertentu berupa syarat dan rukun, dan ada yang nonformal (muthlaqah), pelaksanaannya tergantung pada pelakunya kaitannya dengan situasi dan kondisi. Berdasarkan cakupan manfaatnya, ibadah ada yang tergolong individual (syahsiyah) dan ada yang tergolong sosial (ijtima’iyah). Di sisi lain ibadah juga ada yang dikelompokkan dalam ibadah material (maliyah) dan fisik (badaniyah).
        Berangkat dari banyaknya ragam ibadah ini, setiap individu dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya; ilmuwan dan ulama dengan ilmunya; hartawan dengan hartanya; pemimpin dengan kekuasaannya; kaum miskin dengan kekuatan fisiknya, dan lain-lain.
       Begitu juga kaitannya dengan ibadah di bulan Ramadlan, sudah tentu Islam tidak menganjurkan untuk hanya mengutamakan ibadah yang formal, individual, dan fisikal saja tetapi juga harus disertai dengan yang nonformal, sosial, dan material. Hal ini seperti dapat ditemui pada banyaknya anjuran Nabi tentang bersedekah sekaligus keutamaannya di bulan Ramadhan di samping anjuran untuk memperbanyak ibadah ritualnya.

Kamis, 19 Juli 2012

Cara Nabi Menyambut Ramadlan

Islam menentukan adanya bulan-bulan mulia (asyhur al-hurum), Rajab, Sya'ban, Ramadlan, Dzulhijjah, dan Muharram. Di antara kelima bulan itu Ramadlan merupakan bukan yang paling mulia. Banyak hal yang menjadikan ramadlan sebagai bulan yang istimewa, diantaranya yang terpenting adalah kewajiban puasa, nuzul al-Qur'an, dan lailat al-qadr.
Nabi banyak memberikan anjuran kepada umatnya agar menyambut datangnya bulan ini dengan berbagai persiapan dan mengisinya dengan berbagai perbuatan baik. Tidak hanya menganjurkan, Nabi sendiri memberi contoh dalam meningkatkan kebaikan di bulan ini. Berikut beberapa contoh perbuatan Nabi selama bulan Ramadlan:
Begitu masuk bulan Ramadlan, Nabi bersegera melakukan berbagai macam kebaikan, seperti salat berjama'ah, salat sunnah, mengeluarkan sedekah, membaca al-Qur'an dan sebagainya. Beliau bersabda: "Apabila datang malam pertama bulan Ramadlan, dibelenggulah syetan dan jin, ditutuplah pintu-pintu nereka, dan dibukalah pintu-pintu surga, kemudian diserukan: wahai orang yang mendambakan kebaikan, datanglah! dan wahai orang yang tak suka kebaikan, bermalaslah! (artinya, engganlah memperbanyak amalmu). Dan sesungguhnya dalam bulan Ramadlan ini setiap malamnya Allah swt. membebaskan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari api neraka. (HR. Turmudzi)
Nabi melipatgandakan perbuatan baiknya. Salman meriwayatkan bahwa pada suatu hari di penghujung bulan Sya'ban Rasulullah bersabda, "Wahai sekalian manusia, telah datang kepadamu bulan yang agung, penuh keberkahan, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; diwajibkan padanya puasa; dan dianjurkan untuk menghidupkan malam-malamnya. Maka barang siapa yang mengerjakan satu kebajikan pada bulan ini, seolah-olah ia mengerjakan satu perintah kewajiban di bulan lain, dan siapa yang mengerjakan ibadah yang wajib, seakan-akan ia mengerjakan tujuh puluh kali kewajiban tersebut di bulan yang lain."
Begitulah salah satu cara Allah untuk mengistimewakan Ramadlan, yaitu dengan melipatgandagan pahala setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh umat Islam: pahala mengerjakan ibadah sunnah sama dengan pahala mengerjakan ibadah wajib, sedangkan ibadah wajib akan dibalas tujuh puluh kali lipat pahalanya.
Nabi juga sangat pemurah dan sangat gemar bersedekah serta memberi makan orang yang berpuasa. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah adalah orang yang paling pemurah, lebih-lebih pada bulan Ramadlan. Dilukiskan bahwa beliau bagaikan hembusan angin yang lembut, membawa banyak karunia, menabur kegembiraan di hati orang mukmin. Diriwayatkan pula bahwa beliau sangat penderma, bahkan tidak pernah menolak permintaan apapun yang diajukan ke beliau.
Nabi juga memperbanyak berdo'a, terutama ketika hendak berbuka puasa. Beliau bersabda: "Saat-saat berbuka adalah saat yang paling tepat dan mujarab bagi orang yang berpuasa untuk berdoa." Dan doa yang selalu diucapkan ketika berdoa adalah "Ya Allah, hanya karenamu aku berpuasa, dan dengan rizkimu aku berbuka, telah hilang haus dan dahaka, maka tetap hauslah pahala bagiku, ya Allah!!".
Selalu tadarrus (membaca al-Qur'an). Setiap malam bulan Ramadlan Malaikat Jibril selalu datang menemui Rasulullah, dan bersama-sama membaca al-Qur'anHikmah tadarrus Rasulullah di antaranya adalah untuk mengajarkan umatnya agar rajin membaca al-Qur'an, terutama di bulan Ramadlan, di setiap waktu, apalagi di malam hari, dan ketika mengerjakan shalat malam (tahajjud).
Nabi meningkatkan frekuensi ibadahnya terutama pada sepuluh hari terakhir dengan bertujuan untuk meraih lailatul qadar. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang beribadah pada malam lailatul qadar dengan penih keimanan dan harapan, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah ia lakukan."
Seperti kita ketahui, bahwa ibadah pada malam ini sama nilainya dengan kita beribadah seribu bulan lamanya. Dan doa yang paling afdhol (paling utama) diucapkan pada malam itu adalah: "Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun dan Pemurah serta sangat suka memaafkan. Maka ampunilah kesalahan-kesalahan kami, ya Allah. (Allaahumma innaka 'afuwwun kariim, tuhibbu al-'afwa fa'fu 'annaa yaa kariim).” Diriwayatkan: barang siapa yang shalat Maghrib dan Isya' berjama'ah pada malam Lailatul Qadar itu, maka ia telah mendapatkan sebagian besar keutamaan malam Lailatul Qadar itu. Riwayat yang lain mengatakan, "Siapa yang shalat Isya' berjama'ah pada malam Lailatul Qadar itu, seakan-akan ia telah menghidupkan separuh malam tersebut, dan bila ia menunaikan shalat Subuhnya, maka ia telah menyempurnakan seluruh malam Lailatur Qadar tersebut.
Itulah beberapa jejek Nabi pada bulan Ramadlan, yang pada dasarnya beliau mengajarkan umatnya agar bersungguh-sungguh meraih kebaikan-kebaikan yang ada padanya, dengan berbuat keta'atan, kebaikan, ibadah, terutama ibadah-ibadah sosial, seperti menolong orang lain, meringankan beban hidup orang lain, menyantuni anak yatim dan orang-orang yang papa atau memberi makan orang yang akan berbuka puasa. Di samping itu beliau juga mengajarkan umatnya agar menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan munkar, makruh, dan mubah, apalagi yang haram. Bahkan beliau memperingatkan dengan sabdanya: "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan keji atau kotor (seperti berdusta, membicarakan orang lain atau mengadu domba), maka tidak ada artinya puasanya itu, kecuali ia hanya merasakan lapar dan dahaga saja."

Jumat, 15 Juni 2012

Air Mata Karena Allah

”Tidak akan masuk neraka orang menangis kerana takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya” (HR Turmudzi). Begitu sabda Nabi yang menegaskan suatu keistimewaan yang diterimakan kepada orang yang mampu meneteskan air matanya karena ketakwaannya kepada Allah.
Penekanan takwa bukan hanya karena rasa takut merupakan salah satu wujudnya, tetapi sekaligus merupakan penegas bahwa air mata yang menetes bukan sekedar akibat dari beban berat batin dan pikiran. Biasanya orang mudah menangis saat mengadu kepada Allah terkait dengan suatu musibah yang dialami, tetapi air matanya sukar menetes jika dia dalam keadaan senang.
Yang disebut terakhir ini bukan termasuk yang dimaksud Nabi dalam sabdanya di atas. Tetapi air mata yang menetes dari rasa kerendahan, kekerdilan, dan kelemahan seorang hamba di hadapan Tuhannya, yang berimplikasi pada sikap pasrah dan taat. Karena pada hakekatnya tidak ada daya bagi manusia untuk menghindar dari perbuatan maksiat dan kekuatan untuk kerbakti selain karena bantuan Allah. Inilah makna la haula wala quwwata illa bi Allah.
Imam Abdur Rahman bin Ahmad al-Qadli, dalam kitab Daqa'iqul Akhbar Kitab Daqa’iqul Akhbar (Detil-Detil Berita), subuah kitab yang berisi ulasan kehidupan “metafisik” dengan pendekatan yang amat “fisikal,” menuturkan bahwa akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat nanti dalam keadaan sangat berat timbangan kejahatannya dan telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka.
Salah satu daripada rambut-rambut matanya berkata, ”Wahai Tuhanku, Rasul-Mu, Muhammad, telah bersabda, siapa yang menangis kerana takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan matanya itu ke neraka dan sesungguhnya aku menangis kerana amat takut kepada-Mu.”
Allah akhirnya mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka berkat sehelai rambut yang pernah menangis kerana takut kepada Allah. Malaikat Jibril mengumumkan kejadian itu kepada seluruh manusia, dengan berkata, ”Telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut.”
Imam Al-Ghazali, dalam kitab, Bidayatul-Hidayah (Menjelang Hidayah), juga menceritakan bahwa pada hari kiamat nanti, Allah akan mengeluarkan neraka jahanam dengan disertai suara nyala apinya yang gemuruh. Suara itu membuat semua orang berlutut kerana takut dan sedih terhadap apa yang akan menimpanya.
Allah lalu berfirman, "Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kau kerjakan." (QS. 45: 28).
Hampir saja nyala api itu menghampiri mereka. Semua orang, bahkan para nabi, memohon kepada Allah agar diselamatkan. ”Diriku, diriku.” (selamatkanlah diriku Ya Allah). Begitu kata-kata yang meluncur dari mulut-mult mereka. Hanya Nabi Muhammad yang mengucap ”Umatku, umatku.”
Diterangkan bahwa suara nyala api neraka itu dapat didengar sejauh 500 tahun dalam perhitungan perjalanan di dunia. Pada saat itu nyala api neraka muncul membentuk gumpalan-gumpalan besar bak gunung-gunung. Umat Nabi Muhammad berusaha menghalanginya dengan berkata, ”Wahai api! Demi hak orang-orang yang salat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusuk, demi hak orang-orang yang berpuasa, supaya kamu kembali.”
Namun api neraka itu tetap tidak mau beranjak. Lalu Jibril berkata, ”Sesungguhnya api neraka itu menuju kepada umat Muhammad.” Kemudian Jibril membawa semangkuk air dan Nabi meraihnya. Berkata Jibril, ”Wahai Rasulullah, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya.” Lalu Baginda mengambil dan menyiramkannya pada api itu, api itu padam seketika.
Setelah itu Nabi bertanya kepada Jibril, ”Wahai Jibril, Apakah air itu?” Maka Jibril berkata, ”Itulah air mata orang yang durhaka di kalangan umatmu yang menangis kerana takut kepada Allah. Sekarang aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api itu.” Maka padamlah api itu dengan izin Allah.
Begitulah keistimewaan menangis yang didasari rasa takut kepada Allah. Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa cucuran air mata seseorang tergantung pada apa yang dirasakan. Jika timbul karena rasa tunduk kepada keperkasaan Allah maka menjadi tangis karena takut kepada-Nya, dan jika timbul karena mengagumi dan mengharapkan keindahan-Nya maka menjadi tangis rindu kepada-Nya.
Allah mengistimewakan orang-orang yang menangis karena takut kepada-Nya dengan menjamin keselamatan baginya. Mereka adalah yang tersungkur dan bersujud seraya mencucurkan air mata karena perasaan tunduk dan patuh kepada Allah, mendengar ayat Allah dengan sikap mengagungkan sehingga memberi pengaruh dalam jiwanya berupa iman, harapan, rasa takut, yang kesemuanya mendorongnya menangis serta memohon ampun kepada-Nya (QS. 5: 83).