Senin, 15 April 2013

Akibat Rakus

Dikisahkan, ada ada seorang lelaki yang sengaja menjumpai Nabi Isa untuk mengutarakan keinginannya untuk bersahabat dengannya. "Aku ingin sekali bersahabat denganmu kemana saja kamu pergi," kata lelaki itu. Keianginan kuat lelaki membuat Isa tak kuasa untuk menolak. "Baiklah kalau demikian." Jawab Isa.
Pada suatu hari, mereka berjalan berdua di tepi sungai. Sudah semakin jauh jarak yang ditempuhnya. Mereka merasa capek, haus dan lapar. Mereka kemudian berhenti sejenak untuk istirahat. Dikeluarkanlah bekal makanan mereka dan dibagi dua.
Lelaki itu segera memakan bagiannya. Sementara Nabi Isa turun dulu ke sungai untuk membasahi tenggorokannya. Sekembalinya dari sungai, ia melihat roti bagiannya telah lenyap. "Siapa yang telah mengabil sepotong roti bagianku?" tanya Isa kepada sahabatnya itu. Lelaki itu menjawab, "Aku tidak tahu."
Setelah dirasa cukup istirahatnya, mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanannya. Nabi Isa tanpak lemas karena perutnya hanya terisi seteguk air. Tiba-tiba ia melihat seekor rusa dengan kedua anaknya. Dipanggillah salah satu anak rusa itu untuk disembelih dan dibakar.
Mereka berdua kemudian memakan daging anak rusa itu dengan lahap. Setelah dirasa cukup, Nabi Isa menyuruh anak rusa yang telah dimakan itu supaya hidup kembali. Berkat izin Allah anak rusa itu pun hidup kembali dan kembali berkumpul dengan induknya.
Nabi Isa kemudian bertanya kepada sahabatnya itu, “Demi Allah, yang telah memperlihatkan kepadamu bukti kekuasaan-Nya itu, siapakah yang mengambil sepotong roti bagianku tadi ?" lelaki itu masih tetap menjawab, "Aku tidak tahu."
Mereka berdua kemudian meneruskan perjalanannya hingga sampai ke tepi sungai. Lalu Nabi Isa memegang tangan sahabatnya itu dan mengajaknya berjalan di atas air hingga sampai ke seberang. Ia kembali bertanya kepada sahabatnya itu, "Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti kukuasaan-Nya ini, siapakah yang mengambil sepotong roti tadi ?" lagi-lagi lelaki itu menjawab, "Aku tidak tahu."
Kemudian mereka berjalan lagi sampai keduanya berada di hutan. Ketika keduanya sedang duduk istirahat, Nabi Isa mengambil segumpal tanah, lalu diperintahkan untuk berubah menjadi segumpal emas. Berkat izin Allah tiba-tiba segumpal tanah itu berubah menjadi emas.
Nabi Isa kemudian membagi emas itu menjadi tiga, dan berkata, "Untukku sepertiga, dan kamu sepertiga, sedang sepertiga ini untuk orang yang mengambil roti." Lelaki itu kemudian menyahut, "Berarti yang sepertiga lagi ini untukku, karena akulah yang mengambil roti itu." Kemudian Nabi Isa berkata, "Kalau begitu, ambillah semua bahagian ini untukmu."
Setelah itu Nabi Isa meminta untuk berpisah untuk meneruskan perjalanannya sendiri-sendiri. Tidak lama kemudian lelaki itu didatangi oleh dua orang perampok yang terkenal sangat kejam. Mereka tak segan membunuh korbannya. Lelaki itu merasa takut, tapi ia memberanikan diri untuk bernegosiasi, "Apa tidak lebih baik kita bagi tiga saja emas ini ?" Mereka menyetujuinya.
Salah seorang di antara mereka disuruh pergi ke pasar untuk berbelanja makanan. Seorang yang berangkat ke pasar terbersit dalam pikirannya untuk menguasai semua bagian emas itu. Ia pun bermaksud mencampurkan racun dalam makanan yang akan dibelinya.
Tanpa disadarinya, kedua orang yang masih tetap tinggal juga punya maksud yang sama. "Untuk apa kita membagi harta ini, lebih baik jika ia datang, kita bunuh saja, lalu harta itu kita bagi dua," kata salah seorang dari mereka dan disetujui oleh yang lain. Ketida seorang yang belanja tadi datang, mereka langsung menyergap dan membunuhnya. Seusai membunuh, mereka kemudian memakan makanan yang sudah dibumbui racun. Mereka pun akhirnya mati. Tiga bagian emas itu pun tergeletak tak bertuan.
 Begitulah contoh fitnah yang ditimbulkan oleh dunia. Manusia dititahkan oleh Allah untuk mengelola dunia ini, bukan untuk menguasai sepenuhnya. Keinginan untuk menguasai sepenuhnya inilah yang justru acap kali menimbulkan bencana, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan, sesuai dengan garis yang telah diletakkan oleh Allah bahwa semua kejadian di muka bumi ini memang akibat ulah manusianya sendiri.
Dunia memang berpotensi untuk membuat orang berlebihan dalam ketertarikannya. Hal inilah yang menjadi pangkal timbulnya sikap rakus. Jika orang sudah terjangkit penyakit ini maka ia akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk dengan cara membunuh dan merusak.
Allah memerintahkan manusia untuk mengatur dunia ini, bukan memilikinya secara utuh. Makanya Allah menyebut perintah ini dengan sebutan khalifah (khilafah) bukan malik (mamlakah). Manusia punya tanggungjawab penuh untuk melaksanakannya sesuai dengan garis yang telah diletakkan oleh Allah (syari’ah). Dengan demikian, semua kejadian penyimpangan menjadi tanggungjawab penuh manusia, termasuk akibat yang ditimbulkan dari perbuatannya itu.

Kamis, 28 Maret 2013

Istigfar dan Taubat

Istigfar berasal dari kata gafr yang berarti ampunan. Dalam gramatika bahasa Arab penambahan awalan alif dan sin menunjukkan arti memohon, berarti istigfar menunujuk pada arti memohon ampunan. Seseorang yang merasa telah melakukan kekhilafan dan dosa memohon ampunan agar kekhilafan dan dosanya dihapus.
Sedangkan kata taubat berarti kembali. Cetak dasar manusia adalah fitrah, bersih atau suci. Orang yang taubat berarti ia berupaya kembali pada fitrahnya setelah ia ternoda oleh kekhilafan dan dosa.
Uraian harfiah kedua kata tersebut menunjukkan bahwa keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat kaitannya dengan upaya manusia untuk membersihkan diri atau kembali pada firahnya.
Agar tujuan ini dapat tercapai secara maksimal, para ulama merumuskan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Al-Razi,(W 660 H), yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Abu Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin al-Razi, dalam kitabnya Hadbiq al-Haqbiq mensyaratkan taubat dengan meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, mengucapkan kalimat istigfar, disertai sikap penyesalan yang dalam terhadap perbuatan dosa dan maksiat itu, dan juga dibarengi keinginan yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi.
Syarat ini ditambah oleh sebagian ulama terutama kaitannya dengan khilaf yang menyangkut khilaf terhadap sesama manusia (haq adami) denga meminta maaf kepada orang yang telah dianiaya, mengembalikan hak-haknya, dan mengganti perbuatan dosa dan maksiat itu dengan amal kabajikan.
Ini pun tidak cukup, hingga harus ditambah dengan upaya menghancurkan daging dan lemak yang berasal dari sumber yang haram dengan cara riyadlah, yakni menjalani latihan jasmani dan rohani dalam menempuh berbagai tahapan menuju kedekatan diri kepada Allah, dan mujahadah, yakni perjuangan melawan dorongan nafsu, tidak makan, minum, dan memakai pakaian kecuali yang bersumber dari yang halal, dan menyucikan hati dari sifat khianat, tipu daya, sombong, iri hati, dengki, panjang angan-angan, lupa terhadap kematian, dan yang semacamnya.
Manusia, sebagaimana disabdakan Nabi, memang tempat salah dan lupa. Tetapi bukan berarti kesalahan itu dibiarkan menumpuk tanpa ada suatu penyelesaian. Jika demikian yang terjadi, maka kegelapan akan segera menyelimuti kehidupan ini. Alih-alih kesalahan itu harus diselesaikan dengan cara beristigfar dan bertaubat.
Soal kesalahan itu juga menjadi permasalahan tersendiri. Ada sebagian orang yang merasa bersalah hanya karena perasaan tidak enak saja. Sebagian yang lain merasa bersalah karena merasa kurang berterima kasih. Tetapi sebagian yang lain malah merasa tidak bersalah atau menutup-nutupi kesalahannya meski sejatinya ia telah melakukan kesalahan.
Perbedaan ini juga berimplikasi pada perbedaan tingkatan taubat manusia. Al-Gazali (W 505 H) mengklasifikasikan ada tiga tingkatan. Pertama, taubatnya orang awam, yaitu taubat dari dosa dan maksiat. Kedua, taubatnya orang khawas, yaitu taubat tidak karena melakukan dosa atau maksiat melainkan taubat karena alpa melakukan ketaatan yang bersifat sunnat. Ketiga, taubatnya orang khawahul khawas, yaitu taubat bukan karena dosa dan maksiat atau meninggalkan sunnat, apalagi wajib, melainkan taubat karena berkurangnya nilai khusyu dari seluruh rangkaian ibadah yang dilakukan.
Sampai di sini kita teringat pada pertanyaan Aisyah kepada Nabi kaitannya dengan kebiasaan Nabi yang selalu menghabiskan malamnya dengan beribadah dan beristigfar, padahal beliau adalah orang yang paling baik dalam sejarah manusia dan telah dijamin masuk surga. “Apakah aku tidak termasuk hamba yang bersyukur,” jawab Nabi.
Dialog antara Aisyah dan Nabi ini sekaligus memberikan suatu pemahaman bahwa hakekat taubat bukan sekedar media membersihkan diri hingga manusia dapat kembali pada fitrahnya, melainkan juga dapat menjadi media mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah.
Nabi juga pernah menegaskan bahwa Allah itu baik dan hanya akan menerima yang baik. Penegasan ini dapat menjadi pendorong manusia untuk membersihkan diri melalui istigfar dan taubat. Sehingga ia dapat benar-benar menghadap kepada Allah dan dapat diterima oleh-Nya.
Menimbang begitu pentingnya istigfar dan taubat ini, kaum mutasawwifin (ahli tasawuf) meletakkan taubat  pada tingkatan dasar yang harus dilalui oleh murid (orang yang menghendaki dekat dengan Allah), sebelum ia melalui tingkatan-tingkatan yang lain, seperti sabar, qanaah, faqir, zuhud, tawakkal, ridha, mahabbah, dan ma'rifah.
Tetapi sayang, fakta dalam kehidupan sosial saat ini, justru banyak orang yang cenderung menutup-nutupi kesalahannya atau bahkan tidak merasa bersalah sembari merasa ia masih disayang dan dekat dengan Allah. Padahal sikap serupa ini justru yang menjadi penyebab gelapnya kehidupan ini karena selalu diliputi oleh murka Allah.
Dalam bulan syawal ini, bulan yang berarti peningkatan setelah melalui proses ujian di bulan Ramadan, semoga kita selalu berupaya menyadari kesalahan dengan bertaubat. Sesuai dengan anjuran Nabi yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dari Abu Dzar, “…susullah suatu kejahatan dengan kebaikan, (kebaikan itu) pasti akan menghapusnya …”

Rabu, 27 Maret 2013

Nikmat Hidayah

       Abu Thalib tetap mempertahankan dukungannya terhadap dakwah Nabi meski tekanan dan teror terus datang dari kaum Quraisy. Cukup disayangkan memang paman Nabi yang turut membesarkan dan membela Nabi itu tetap memilih untuk tidak beriman dan mengikti ajaran yang dibawa oleh keponakannya tersebut.
       Tekanan dan teror yang diberikan oleh kaum Quraisy kepada Nabi dan pengikutnya membuat Abu Thalib prihatin. Mungkin keprihatinan itu muncul dari rasa kemanusiaannya yang tidak tega melihat orang yang selalu ditindas atau justru hanya faktor keluarga, tidak ada riwayat yang menuturkan hal ini, yang jelas keprihatinannya tersebut tidak sampai mengetk pintu hatinya untuk menerima dan mengikuti ajaran Nabi hingga akhir hayatnya.
       Terdap kenyataan ini Nabi tidak bisa berbuat apa-apa, terutama kaitannya dengan ancaman siksaan bagi orang kafir, beliau hanya bisa berdoa, sebagaimana tertuang dalam sebuah hadits riwatar Bukhari dan Muslim: “Semoga syafaatku bermanfaat baginya kelak di hari kiamat. Karena itu, dia ditempatkan di neraka yang paling dangkal, api neraka mencapai mata kakinya lantaran itu otaknya mendidih.”
       Sesungguhnya Nabi sangat berkeinginan untuk mengislamkan pamannya itu. Namun, Allah tidak memberikan hidayah kepadanya. Allah memiliki rencana lain yang belum dipahami oleh Nabi. Allah menegaskan, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS al-Qashshash: 56).
       Hidayah memang merupakan hak prerogatif Allah yang hanya diberikan kepada manusia yang dikehendakiNya. Karenanya nikmat hidayah merupakan nikmat yang sangat besar yang terimakan Allah kepada manusia. Bersyukur terhadap nikmat ini sudah sepatutnya menjadi prioritas karena nikmat ini kelakigus sebagai tanda bahwa orang yang bersangkutan telah dikehendaki baik oleh Allah.
      Nikmat hidayah ini sungguh sangat mahal harganya. Tidak semua orang mendapatkannya. Mari kita tengok perjuangan Nabi Nuh, sudah sekian lama dia berdakwah untuk mengajak umatnya beriman kepada Allah. Namun, hingga usianya hampir seribu tahun (950 tahun), hanya sedikit kaumnya yang beriman kepada Allah. Bahkan, anak dan istri yang disayanginya juga tidak mengindahkan seruannya untuk beriman kepada Allah.
       Nuh bahkan tidak dapat menyelamatkan mereka dari adzab Allah. “Dan Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang jauh, ‘Wahai anakku! Naiklah bahtera ini bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir’. Dia berkata, ‘Aku akan berlindung ke gunung yang akan menghindarkanku dari air bah. Nuh berkata, ‘Hari ini tidak ada lagi yang bisa melindungi dari adzab Allah kecuali Dzat Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang pun menghalangi mereka berdua, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 42-43)
       Melihat anaknya yang tenggelam, Nabi Nuh berdoa,“Dan Nuh pun menyeru Rabbnya, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji yang benar, dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman, ‘Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu (yang diselamatkan), sesungguhnya amalannya bukanlah amalan yang shalih. Maka janganlah engkau meminta kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya Aku peringatkan engkau agar jangan termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Hud: 45-46)
       Kisah yang serupa juga dialami oleh Nabi Ibrahim. Keimanannya yang diperoleh melalui proses pencarian yang panjang mampu tertanam kokoh di dalam hatinya. Namun dia hidup di tengah-tengah orang yang menyembah berhala dan menyekutukan Allah, dan dia tidak mampu mengajak orang tuanya untuk mengikuti ajaran yang dibawanya. “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan yang ada di langit dan di bumi agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS al-An’am: 75).
       Kisah-kisah tersebut, dan kisah-kisah lain yang serupa, dapat menjadi pendorong yang kuat untuk meningkatkan sikap syukur terhadap nikmat hidayah. Ditambah lagi adanya kenyataan bahwa orang yang tidak mendapat hidayah dari Allah, hidup di dunia ini terasa lelah, takut, cemas, waswas, gelisah, dan bingung.
       Bukankah tidak sedikit orang kaya malah menderita dengan kekayaannya. Kekayaan yang melimpah justru semakin membuat sengsara dan menyiksanya. Semakin kaya semakin banyak barang yang harus dijaganya, takut hilang, takut dicuri orang, memunculkan sifat ingin dipuji, dan sebagainya.
       Ada juga yang menyangka bahwa dengan kedudukan, pangkat, dan gelar maka seseorang akan memperoleh kemuliaan. Dia menganggap kemuliaan itu datang dari gelar, sehingga dia kasak kusuk kesana kemari memburu kedudukan dan gelar. Sekolah tidak, kuliah tidak, tiba-tiba bertitel master atau doktor.
       Mengapa ada orang yang sampai mau membeli gelar, membohongi dirinya sendiri. Padahal semua itu tidak ada artinya kalau dia tidak mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah untuk menjadi orang yang tahu agama. Setinggi apapun gelar atau kedudukannya, setiap manusia suatu saat pasti akan mati.
       Orang yang jauh dari agama, jauh dari Alquran, apapun yang diberikan Allah kepadanya pasti hanya akan membuat dirinya hina. Harta, gelar, pangkat, jabatan yang diberikan Allah kalau tidak diikuti dengan ketaatan kepada Allah, justru pasti akan menjadi siksa baginya.
       Sebaliknya, orang yang mendapat hidayah dari Allah, dia tidak akan pernah merasa takut. La khaufun alaihim wa laa hum yahzanuun (tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati). Dia tidak pernah panik menghadapi kehidupan dunia. Justru dia akan merasa galau kalau tidak mampu berbuat yang terbaik dengan apa yang bisa dia lakukan.
       Jika orang lain takut tidak punya uang, maka orang yang mendapatkan hidayah takut kalau tidak punya jujur, takut jika tidak punya syukur, takut bila tidak punya sabar. Banyak orang takut karena tidak memiliki gelar, padahal yang seharusnya ditakuti adalah ketidakmampuan mempertangungjawabkan gelar tersebut.
       Langkah paling pokok untuk meraih hidayah Allah adalah dengan terus mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Tiada hari tanpa mencari ilmu, tiada hari kecuali bertambah amal dan tiada hari kecuali menambah bersih hati. Makin banyak ilmu, makin produktif dalam beramal dan makin bening hati.
       Semoga Allah tetap menjaga nikmatNya yang paling mahal, yakni hidayah, untuk kita dengan ilmu. Dan semoga pula kita dapat terus mensyukurinya dengan amal yang tulus dan ikhlas.

Kamis, 14 Maret 2013

Agama Nasehat

Pada suatu kesempatan Nabi menjelaskan kepada para sahabatnya bahwa "Agama itu nasehat." Mereka bertanya, “Untuk siapa?” Ia menjawab, “Untuk Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan mereka secara umum."
Tampaknya jawaban Nabi ini dapat dipahami secara jelas untuk dua objek yang terakhir, tetapi untuk tiga objek yang pertama mungkin masih samar bagi sebagian umat Islam. Karenanya, hampir setiap ahli hadits memberikan penjabaran. Kalau makna nasehat adalah mengharapkan kebaikan pada orang lain, maka bagaimana mungkin hal itu diharapkan pada ketiga objek tersebut. Hal ini benar, tetapi yang patut diingat adalah adanya implikasi kebaikan bagi yang memberi nasehat baik secara langsung atau tidak. Implikasi inilah yang sesungguhnya ditekankan pada nasehat di sini.
Pertama, nasehat untuk Allah. Nasehat ini diartikan sebagai suatu sikap iman secara jujur kepada-Nya melalui informasi dari Kitab maupun dari Nabi-Nya, kesediaan untuk menghambakan diri (beribadah) kepada-Nya secara tulus (ikhlas), patuh terhadap seluruh perintah dan larangan-Nya, serta mencintai dan membenci segala apa yang dicintai dan dibenci-Nya.
Pengertian seperti ini dapat ditemukan dalam penafsiran al-Qurtubi tentang pernyataan Tuhan mengenai persoalan ini dalam surat At-Taubah ayat 91. Dia menyatakan bahwa "nasehat untuk Allah adalah sikap memurnikan keyakinan tentang keesaan-Nya, memberi sifat kepada-Nya sifat-sifat ketuhanan (uluhiyah), dan mensucikan-Nya dari segala kekurangan serta mencintai apa saja yang dicintai-Nya dan menjauhi apa saja yang dibenci-Nya"
Kedua, nasehat untuk kitab-kitab-Nya (bagi umat Islam adalah al-Qur’an). Yaitu meyakini bahwa ia merupakan kalam Allah (bukan makhluk), yang diwahyukan kepada Nabi melalui Jibril, dengan berbahasa Arab, dan berfungsi sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira, sebagaimana penegasan-Nya. Arti ini merujuk pada firman Allah "Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Ia dibawa oleh Jibril (al-ruh al-amin)  ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas."
Al-Qur’an adalah risalah yang disampaikan oleh Nabi kepada umatnya. "Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." Ia juga merupakan kalam Allah, sebagaimana hadits dari Jabir yang diriwayatkan oleh al-Bukhari tentang suatu saat Nabi menyodorkan dirinya kepada orang yang pulang haji: "Adakah seorang yang akan membawaku kepada kaumnya, sebab orang Quraisy telah melarangku untuk menyampaikan kalam Tuhanku." 
Ketiga, nasehat bagi rasul-rasul-Nya. Yaitu membenarkan kenabiannya, selalu taat kepadannya kaitannya dengan larangan dan perintahnya, mencintai orang yang mencitainya dan membenci orang yang membencinya, menghormatinya, mencintainya dan keluarganya, mengagungkannya, dan menghidupkan sunahnya dengan pempelajari, memahami, membela, dan menyebarkannya.
Keempat, nasehat bagi para pemimpin kaum muslimin. Maksudnya adalah membantu mereka dalam menjalankan kepemimpinannya, mengingatkannya jika mereka melakukan kesalahan, mendukungnya jika mereka berada pada jalur kebenaran, selalu mendukungnya selain pada kezaliman, berupaya mengembalikan dukungan dari orang-orang yang sempat menjauh darinya, dan nasehat terbesar bagi mereka adalah menyelamatkannya dari kezaliman dengan cara yang baik.
Senada dengan pengertian ini, al-Qurtubi menjelaskan bahwa yang dimaksud nasehat ini adalah "tidak memberontak kepada mereka, membimbingnya pada kebenaran, mengiatkannya tentang urusan kaum muslimin yang dilalaikannya, tetap taat kepadanya dan memberikan hak-haknya." Al-Hafidh Ibnu Rajab menambahinya dengan sikap "mencintai kebaikan, kecerdasan, dan keadilan mereka, mencintai upayanya untuk menjaga kesatuan umat di bawah kepemimpinannya, membencinya kalau umat ini terpecah belah di bawah kepemimpinannya, mengingatkannya agar tetap menjadi orang yang beragama dengan taat, membenci orang-orang yang bersikap memberontak kepadanya, dan mencintai kemulaannya dalam urusan taat kepada Allah.”
Dan kelima, nasehat bagi kaum muslimin.  Maksudnya adalah tidak memusuhi mereka, mencintai orang shalih di antaranya, dan selalu berupaya agar mereka mendapat kebaikan. Imam Muhyiddin al-Nawawi memaksudkan nasehat ini berupa “membimbing kaum muslimin demi kebaikan di dunia dan akhirat, tidak mengganggu mereka, mengajarkan kepadanya tentang persoalan agama yang belum diketahuinya baik melalui ucapan maupun amalan, menutup aurat mereka, menghadang hal-hal yang membahayakan bagi mereka, mengusahakan agar mereka selalu mendapat kebaikan, menyeruhnya kepada yang ma'ruf, mencegahnya dari yang munkar dengan ketulusan dan kasih sayang, menyayanginya, menghormati yang tua dari mereka, menyayangi yang muda, selalu menasehati mereka, tidak menipunya, tidak dengki kepadanya, mencintai segala kebaikan yang dicintainya, membenci segala keburukan dan kejahatan yang dibencinya, membela harta dan kehormatan mereka, menganjurkannya untuk menjadikan segala kebaikan yang telah disebut sebagai akhlaknya, serta mendorongnya agar selalu melakukan amalan-amalan taat."

Sabtu, 23 Februari 2013

Meraih Pujian Allah

Manusia memiliki beberapa karakter buruk yang jika tidak diobati maka akan merugikan manusia itu sendiri. Beberapa karakter buruk manusia disebut dalam Alquran adalah: Pertama, mengeluh dan kikir. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." (QS. 70:19). Disadari maupun tidak, mengeluh merupakan sifat dasar manusia yang biasanya timbul di saat dia tersandung masalah atau tertimpa musibah.
Sedangkan kikir atau bakhil, diuraikan Allah: “... Dan adalah manusia itu sangat kikir” (QS. 17:100). Agar sifat ini tidak semakin tumbuh besar dalam diri seseorang, maka Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu berdoa, “Allahumma inni a’udzubika minal bukhli (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir).”
Kedua, lemah. Sifat lemah ini di dalam Alquran dijelaskan ada lemah secara fisik, “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah...” (QS.30:54); dan lemah (dalam melawan) hawa nafsu, “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. 4:28). Menurut Syeh Nawawi qal-Bantani, tafsir “lemah” dalam ayat ini adalah lemah dalam melawan hawa nafsu.
Ketiga, zalim dan bodoh. “... sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. 33:72). Kezaliman dan kebodohan manusia dalam ayat di atas disebabkan karena rusak dan kotornya bumi, karena pertumpahan darah dan ulah manusia itu sendiri yang tidak merawat bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan Allah.
Keempat, tidak adil. Sering kali manusia kurang memperhatikan perilaku adil dalam kehidupan sehari-hari. Kaum Madyan yang tidak berlaku adil, akhirnya diazab oleh Allah, seperti dalam firman-Nya, “Dan Syu'aib berkata, ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. 11:85).
Semua karakter tersebut bukan berarti sama sekali tidak bisa diatasi. Sebab membiarkan karakter-karakter tersebut mendominasi seseorang sama saja dengan mendatangkan murka Allah. Oleh karenanya, dia harus mengerahkan segala usaha untuk meminimalkan karakter buruk tersebut dengan menonjolkan sifat-sifat baik yang ada dalam dirinya, sehingga Allah akan memujinya.
Hampir semua nabi dan rasul yang mendapatkan pujian dari Allah selalu terkait dengan sifat shiddiq, yaitu jujur dan benar. Baik dalam pemikiran, perkataan, maupun tingkah laku keseharian. Tidak ada perbedaan, apalagi pertentangan antara yang diucapkan dan yang dilakukan.
Sifat dan karakter inilah yang sangat dicintai Allah dan menghantarkan kesuksesan para nabi dan rasul tersebut di dalam melaksanakan misi dari risalah kenabiannya.
“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (Alquran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat benar (jujur) lagi seorang Nabi.” (QS 19:41). Lihat juga dalam ayat 54-57 tentang kejujuran Ismail dan Idris AS.
Karena itu, para ulama menempatkan empat karakter dan sifat yang wajib melekat pada setiap pribadi nabi dan rasul dengan shiddiq (jujur), amanah (bertanggung jawab), fathanah(cerdas), dan tabligh (menyampaikan risalah Islamiyah kepada umat manusia dengan penuh kesungguhan).
Meskipun keempat sifat dan karakter tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, namun kejujuran merupakan sumber utamanya. Nabi menganjurkan umatnya untuk senantiasa jujur dalam segala hal, tidak boleh ada dusta, kepura-puraan, dan pengkhianatan.
Beliau bersabda, “Kalian harus berlaku jujur karena kejujuran itu akan membimbing pada kebaikan. Dan, kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring pada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.” (HR Muslim).
Korupsi yang merajalela sampai saat ini di berbagai instansi dan tingkatan, penyebab utamanya tidak lain adalah karena hilangnya sifat jujur pada sebagian masyarakat, terutama yang mendapatkan amanah sebagai pejabat publik. Berbagai delik jeratan hukum dikelabui sedemikian rupa agar dapat aman menggasak uang negara dan rakyat.
Dan naifnya, mereka yang muslim saat berhasil sukses dan aman bersyukur dengan mengucap Alhamdulillah, sembari merasa mereka telah mendapat pertolongan Allah karena dapat melakukan semuanya dengan lancer.
Padahal, bagi orang yang beriman (apa pun posisi dan jabatannya), meskipun tantangannya sangat berat untuk memiliki dan menguatkan sifat jujur dan benar dalam segala hal, harus tetap ditumbuhkembangkan dan diperkuat sehingga menjadi struktur kepribadian yang melekat pada pribadinya.
Karena, jujur itu akan mengundang kasih sayang dan pujian dari Allah, yang dampaknya akan dirasakan dalam kehidupan di dunia ini berupa ketenangan, kedamaian, dan kesuksesan. Dan, di akhirat nanti akan mendapatkan surga-Nya. “Hai orang-orang yang beriman, ber takwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama dengan orang-orang yang jujur (benar).” (QS 9:119).

Kamis, 14 Februari 2013

Taubatnya Sang Pembunuh

Dalam kitab kumpulan hadisnya yang cukup terkenal, “Riyadl al-Shalihin,” Imam An-Nawawi, menuturkan sebuah hadis yang berisi kisah tentang upaya taubatnya seorang pembunuh 100 nyawa. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sanad Abu Sa’id Al-Khudri, Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan.
Dikisahkan, di Israel, ribuan tahun sebelum Masehi, ada seorang pria yang tegap perkasa, berwajah seram, dan selalu membawa senjata ke mana pun dia pergi. Baginya membunuh orang tak ubahnya membunuh tikus. Sudah 99 nyawa melayang di tangannya. Perilakunya tak ubahnya bagai seorang spikopat.
Pria itu memang hidup di lingkungan yang jauh dari norma agama. Alih-alih pernah beribadah hari-harinya malah berselimut kejahatan. Selama hidupnya dia sama sekali tidak pernah melakukan kebaikan. Sampai pada suatu saat kesadaran nuraninya tersentuh. Dia menyesal telah menghabiskan usianya dengan membunuh puluhan jiwa tak berdosa. Dia ingin bertaubat.
Namun di saat yang sama dia juga bimbang apakah mungkin dosanya yang sangat besar itu bisa terampuni. Dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana caranya dia bisa mengganti 99 nyawa yang telah dihabisinya. Dia hanya bisa meratapi betapa sangat buruk perilakunya selama ini.
Dia ingin memohon ampun Allah dengan mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi Musa. Tetapi dia tidak tahu harus mulai dari mana, karena tidak sama sekali tidak pernah mau mendengarkan pengajaran agama yang dibawa Nabi Musa. Itu pun dia tetap pesimis kalau taubatnya akan diterima.
Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari seorang ahli agama yang dapat menuntunnya bertaubat. Dia pergi ke kota dan berseru, “Siapakah orang yang paling alim di muka bumi ini, apakah dia salah satu di antara kalian?”
Suaranya yang menggelegar memancing perhatian warga. Dari mereka akhirnya dia memperoleh informasi tentang keberadaan seorang ahli agama nomor satu di seluruh negeri Israel, seorang rahib Yahudi yang dikenal sebagai orang yang paling taat beribadah. Sama sekali dia tidak pernah melewatkan waktunya untuk beribadah.
Sang pembunuh itu akhirnya pergi ke kediaman seorang rahib seperti yang diinformasikan warga tersebut. Sesampainya di hadapan sang rahib, dia semakin yakin sebab dari wajahnya saja telah menyiratkan kalau dia adalah seorang rahib yang sangat rajin beribadah. Setelah bercengkrama sejenak, dia mulai menuturkan maksud kedatangannya. Dengan jujur dia mengakui perbuatannya di hadapan sang rahib kalau dia telah merenggut 99 nyawa. Dia sangat menyesal terhadap semua itu dan dia ingin sang rahim menuntunnya untuk bertaubat. 
Penuturan jujur sang pembunuh itu membuat sang rahib sangat terkejut dan murka. Dia pun menyatakan dengan tegas kalau Allah tidak akan mungkin bersedia menerima taubatnya. Pernyataan sang rahib ini pun memancing kemarahannya. Dia pun kemudian menghabisi rahib itu hingga menggenapkan angka korbannya menjadi 100.
Setelah ditelisik ternyata sang rahib itu hanya rajin beribadah dan kolot dalam beragama. Dia tidak mampu menghayati ilmu agama, apalagi pengamalan ilmu agama yang aplikatif ketika dihadapkan pada berbagai problem di masyarakat, termasuk problem memfasilitasi seorang penjahat yang ingin memperbaiki diri dengan bertaubat.
Pada esok harinya, sang pembunuh itu kembali ke tengah kota dan menyeru dengan teriakan yang sama. Cuma kali ini dia menginginkan informasi tentang keberadaan seorang yang benar-benar paling alim di seluruh belahan dunia.
Kali ini ada seorang warga yang menunjukkan rumah seorang rahib yang rajin beribadah dan juga ahli ilmu agama. Berbeda dengan rahib sebelumnya, rahim yang kedua ini dikenal sangat mumpuni pemahaman dan penghayatannya terhadap agama dengan suluruh dimensi syariatnya.
Sang pembunuh pun berangkat menuju rumah rahib ahli ilmu itu. Ketika dia telah bertemu dengan sang rahib dia mengutarakan dengan jujur sebagaimana yang dilakukan kepada rahib sebelumnya. Pun ditambah dengan peristiwa yang menimpa sang rahib pertama.
Sang rahib kedua ini pun sangat terkejut mendengar pengakuan sang pembunuh tersebut, namun dia masih memberi penilaian tersendiri terhadap niat baik sang pembunuh. “Tentu saja, siapakah yang mampu menghalangimu untuk bertaubat.”  Sang rahib berupaya memberikan penjelasan terhadap pertanyaan sang pembunuh sembari menepuk-nepuk pundaknya.
Penjelasan sang rahib membuat wajah sangar sang pembunuh berubah 180 derajat. Raut mukanya tampak bersinar, kedua matanya berkaca-kaca, bibirnya tersenyum meski tampak aneh karena selama ini bibirnya tidak pernah digunakan untuk menyungging senyuman. Dia sangat senang karena harapannya untuk menjadi orang baik mulai menemukan jalan.
Selanjutnya sang rahib memberinya petunjuk agar dia meninggalkan negerinya yang bergelimang kejahatan dan pergi ke negeri orang-orang saleh. Di sana dia bisa menghabiskan sisa usianya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama.
“Pergilah ke negeri rantau. Di sana terdapat orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah. Sembahlah Allah bersama mereka dan janganlah kembali ke negerimu yang dulu karena negeri tersebut adalah negeri yang buruk,” nasihat sang rahib kepadanya.
Tanpa menunda waktu sang pembunuh itu segera menjalankan nasihat sang rahib itu. Dia  bergegas melakukan hijrah menuju negeri baru. Perjalanan panjang harus ditempuhnya. Sama sekali dia tidak mengeluh sepanjang perjalanan, sebab tekadnya untuk bertaubat sudah mendarah daging.
Tetapi tampaknya takdir Allah menghendaki lain. Sang pembunuh itu meninggal di tengah perjalanan hijrahnya. Belum sempat dia melakukan kebaikan. Satu-satunya kebaikan adalah niatnya untuk bertaubat yang telah mulai dijalaninya.
Kematian sang pembunuh itu rupanya menimbulkan polemik penghuni langit. Setelah malaikat Izrail mencabut nyawanya, giliran malaikat pembawa ruh dilanda perselisihan. Malaikat rahmat dan malaikat azab sama-sama merasa berkewajiban membawa ruh itu ke alam baka.
“Dia telah bertaubat, meninggal dalam keadaan taubat dan menyerahkan sepenuh jiwa hatinya kepada Allah,” kata malaikat rahmat berargumentasi. Namun, malaikat azab punya pendapat lain. “Dia bertaubat, tapi belum sedikit pun melakukan amalan kebajikan,” ujarnya.
Cukup lama kedua malaikat itu beradu pendapat, hingga Allah mengutus satu malaikat untuk menengahi mereka. “Ukurlah jarak orang ini dengan dua negeri, negeri buruk asalnya dan negeri baik yang menjadi tujuannya. Mana jarak terdekat dengan negeri itu, maka tentukan apakah dia termasuk orang yang dirahmati atau diazab,” tutur malaikat penengah tersebut.
Malaikat rahmat dan malaikat azab akhirnya menjalankan usulan malaikat penengah tersebut. Mereka mengukur jarak dua negeri dengan lokasi kematian sang pembunuh. Dan tenyata lokasi meninggalnya sang pembunuh itu tepat di tengah-tengah jarak antara kedua negeri, namun jasadnya dalam posisi membusungkan dadanya ke arah negeri tujuan.
Kedua malaikat itu akhirnya sepakat kalau dia dianggap lebih mendekati negeri baik. Selanjutnya malaikat rahma membawa ruhnya menuju surga.