Kamis, 14 November 2013

Nilai Sedekah di Hari Asyura

Kemarin (14/11) merupakan hari kesepuluh bulan Muharram menurut kalender Hijriyah atau yang lebih dikenal dengan sebutan “asyura.” Dalam rentang sejarah manusia, hari itu memiliki keistimewaan yang cukup besar. Tidak heran jika semua penganut agama-agama samawi, termasuk Islam, memasukkannya dalam daftar hari-hari istimewa yang harus diperingati dengan serangkaian ibadah.
Anjuran bentuk ibadah yang utama yang diberikan oleh Nabi kaitannya dengan peringatan hari Asyura adalah berpuasa dan melapangkang nafkah untuk keluarga. Dan saat ini bentuk ibadah itu berkembang hingga dalam bentuk pemberian santunan kepada kaum dhuafa’ terutama anak yatim. Bahkan ada banyak kalangan yang mengharapkan hari itu menjadi “hari anak yatim.”
Terkait dengan perkembangan bentuk ibadah terdapat kontroversi; ada yang menganggapnya sebagai fadla’il al-‘a’mal (mengambil keutamaan dalam beramal), apalagi amalan yang dilakukan termasuk dalam kategori ibadah sosial. Tetapi tidak sedikit pula yang menggolongkannya sebagai bentuk bid’ah yang wajib dijauhi bagi orang menginginkan berislam secara murni.
Mari kita tinggalkan kontroversi itu dan kembali pada keutamaan hari Asyura. Di dalam kitab Irsyad al-‘Ibad Ila Sabilal-Rasyad karya Zainuddin Ibnu Abdul Aziz al-Malibari, kitab yang banyak dikaji terutama di pesantren-pesantren salaf, dituturkan sebuah kisah tentang Athiyah bin Khalaf.
Diceritakan dia adalah seorang penduduk Mesir yang berprofesi sebagai pedagang kurma. Dia termasuk orang yang kaya raya. Dia sempat mendapatkan kekayaan yang melimpah dari profesinya itu.tetpi karena suatu hal dia jatuh miskin. Dia tidak punya apa-apa kecuali pakaian yang melekat di badan untuk menutupi auratnya.
Ketika hari Asyura datang, dia melakukan shalat shubuh di Masjid Amru bin Ash. Setiap hari Asyura masjid itu penuh dengan orang-orang yang ingin memanjatkan doa, termasuk para wanita. Di hari-hari biasa masjid itu dinyatakan tertutup bagi kaum wanita.
Seperti jama’ah yang lain, Athiyah beri’tikaf dan berdoa. Dia mengambil tempat yang terpisah dari kaum wanita. Tetapi tiba-tiba datang kepadanya seorang wanita bersama anak-anak yang masih kecil.
Wanita itu berkata: “Wahai tuan, aku minta kepadamu, demi Allah, semoga tuan bisa meringankan kesulitanku dan rela memberikan sesuatu yang bisa kugunakan untuk memenuhi kebutuhan makan anak-anak ini. Bapak mereka telah meninggal. Dia tidak meninggalkan satu apapun untuk mereka. Aku adalah Syarifah. Aku tidak tahu siapa yang aku tuju.
Aku tidak keluar kecuali hari ini, itupun karena keterpaksaan yang mendorongku untuk mengorbankan diri. Dan itu bukan merupakan kebiasanku.”
Athiyah terharu terhadap keluhan wanitaitu. Dia berkata dalam hatinya: “Aku tidak mempunyai apa-apa. Tidak ada milikku keculai baju ini. Jika aku lepas akan terbukalah tubuhku. Tetapi jika wanita ini aku tolak, alasan apakah yang akan aku kemukakan pada Rasulullah.”
Di tengah kebingungannya, Athiyah berkata kepada wanita itu: “Mari ikut aku ke rumahku. Aku akan memberimu sesuatu.”
Wanita itu pun mengikuti ajakan Athiyah. Sesampai di rumahnya, Athiyah memintanya menunggu di depan pintu,  sementara dia masuk ke rumah untuk melepas bajunya. Dengan mengenakan sarung lusuh dia kembali menemui wanita itu dari balik pintu untuk memberikn baju yang dilepasnya tadi kepada wanita itu.
Wanita itu menerimanya dengan mendoakan Athiyah: “Semoga Allah memberikan pada tuan pakaian-pakaian surga dan tuan tidak akan membutuhkan kepada orang lain selama hidup tuan.”
Athiyah merasa senang dengan doa wanita itu. Dia kemudian menutup pintunya. Dia tidak keluar rumah lagi karena sibuk berdzikir hingga larut malam dan tertidur. Di dalam tidurnya dia bermimpi melihat bidadari, belum pernah dia melihat seorang wanita yang lebih cantik darinya. Tangan wanita itu memegang buah apel yang bau harumnya semerbak ke sekitarnya, seolah mengharumkan seluruh antara langit dan bumi.
Wanita itu membrikan buah apel tersebut kepada Athiyah. Ketika apel itu dibelah, darinya keluar pakaian dari pakian surga yang tidak terbanding dengan pakaian di dunia. Wanita itu meminta izin kepada Athiyah untuk mengenkan pakaian itu pada tubuhnyanya. Sebelum kemudian wanita itu duduk manja di pangkuan Athiyah.
Athiyah lantas bertanya: “Siapakah kamu ini?” “Aku adalah 'Asyura, istrimu di surga,” jawab bidadari itu. “Dengan amal apa hingga aku memperoleh kemuliaan seperti ini?” tanya Athiyah. Bidadari itu menjawab: “Dengan seorang janda miskin, dan anak-anak yatim yang kemarin engkau telah berbuat baik kepada mereka.”
Kemudian Athiyah terbangun, dan dia sangat senang yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, sementara tempat dimana dia berada semerbak dari bau wanginya. Dia kemudian mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda rasa syukurnya kepada Allah.
Seusai shalat, dia mengangkat pandangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku. Apabila mimpi dalam tidurku itu benar dan bidadari dalam mimpiku itu adalah istriku di surga, maka matikanlah aku saat ini juga untuk bertemu dengan-Mu.” Belum usai doa dipanjatkan, Allah menyegerakan ruh Athiyah ke surga.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Amal Baik

Sejak manusia masih berupa janin dalam kandungan, ketika Tuhan meniupkan ruh kepadanya, Tuhan meminta kesaksiannya kaitannya dengan eksistensi ketuhanan-Nya. Tidak ada satu pun yang menolak, semuanya telah memberikan kesaksian bahwa hanya Allah sebagai Tuhannya. Kejadian yang kemudian dikenal dengan istilah ”perjanjian primordial” inilah yang menjadi dasar potensi fitrah yang dimiliki oleh manusia sejak dia dilahirkan. Dengan potensi fitrah yang dimiliki ini manusia memiliki satu kecenderungan pada kebenaran yang disebut khanif.
Dasar ini sekaligus memberikan pengertian bahwa potensi jahat pada manusia itu bukan merupakan bawaan, melainkan merupakan pengaruh lingkungan di mana dia hidup. Hal ini dapat dipahami dari penegasan Nabi bahwa kefitrahan manusia itu akan memudar tergantung pada lingkungan yang membentuknya.
 Kecenderungan manusia pada kebenaran itu kemudian diaktualisasikan dalam bentuk perbuatan-perbuatan. Karena itu manusia tidak dapat dinilai melalui eksistensi kemanusiaannya, melainkan dari perbuatannya. Perbuatan ini yang disebut amal. Baik atau buruk manusia sangat tergantung pada amal yang diperbuat. Dan karena manusia bisa menjadi baik atau buruk melalui perbuatannya, maka sudah tentu amal manusia ada yang tergolong baik (salih) dan buruk (maksiat).
Di dalam al-Qur’an, banyak sekali anjuran Tuhan untuk menjalankan yang pertama dan meninggalkan yang kedua, sekaligus berbagai manfaat dan mudharatnya bagi pelakunya. Salah satu anjuran-Nya adalah tentang menjadikan amal baik sebagai media untuk bertemu dengan-Nya: “bagi siapa saja yang mengharapkan untuk bertemu dengan Tuhannya, hendaknya ia mengerjakan amal baik”.
Ibnu Qayyim memberikan pengertian amal baik sebagai suatu perbuatan yang mengandung kebenaran. Dan sebaliknya amal buruk adalah suatu perbuatan yang mengandung kebatilan. Al-Syahrastani menyebutkan bahwa amal baik ialah perbuatan yang mendatangkan pujian menurut pandangan syari’at bagi pelakunya, dan amal buruk ialah perbuatan yang membawa kecelakaan menurut pandangan syari’at bagi pelakunya.
Menurut al-Ghazali, suatu perbuatan disebut baik (amal salih) kalau perbuatan itu sesuai dengan maksud pembuat, dan disebut buruk kalau tidak sesuai dengan tujuan pembuat. Keadaan itu sesuai atau tidak dengan tujuan dapat terjadi pada masa sekarang atau pada masa yang akan datang. Lebih lanjut al-Ghazali menegaskan bahwa perbuatan baik dalam pengertian yang sebenarnya adalah perbuatan yang sesuai dengan tujuan di masa yang akan datang yaitu akhirat, jelasnya suatu perbuatan yang oleh wahyu ditentukan baik. Dan perbuatan buruk atau jahat adalah lawan dari perbuatan baik tersebut.
Berpijak pada ayat di atas dapat dipahami bahwa persoalan baik dan buruk memang sangat menentukan bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat, karena ia sangat terkait dengan capaian akhir yang menjadi penentu terhadap kebahagiaan atau celakanya seseorang. Dan Tuhan menghendaki agar amal baik dijadikan sebagai media pertemuan antara Ia dan dengan-Nya.
Ungkapan pertemuan ini dapat diartikan rahmat atau ridha Tuhan, yang merupakan orientasi dari segala perbuatan manusia beriman. Suatu pertemuan tidak bermakna apa-apa jika tidak ada kucuran rahmat atau ridha. Bertemu juga dapat diartikan suatu pertemuan antara manusia dan Tuhan nanti di surga, seperti pernyataan sebagaian ulama bahwa nikmat yang paling besar yang akan diterimakan kepada manusia adalah bertemu dengan Tuhan.
Penjelasan ini sekaligus menyiratkan urgensi iman, karena ia merupakan inti energi yang menggerakkan manusia untuk menentukan perbuatannya sekaligus orientasi atau tujuan tertinggi dari perbuatan tersebut. Jika iman seseoang kuat atau tebal maka perbuatannya akan baik. Dan sebaliknya, jika imannya lemah atau tipis sangat mungkin ia akan terjerumus pada prilaku maksiat. Penegasan Tuhan tentang upaya mendekati dan memperoleh ridha Tuhan melalui kerja atau amal salih juga dapat dijadikan sebagai bukti adanya keterkaitan antara perbuatan manusia dengan iman.
Jelasnya, amal baik seperti yang dikehendaki ayat di atas merupakan suatu media transendensi manusia kepada Tuhan, dan karenanya keimanan memiliki peran yang signifikan. Artinya tanpa dasar keimanan suatu perbuatan baik tidak akan berarti apa-apa. Ia tidak akan dapat menghantarkan pelakunya pada capaian yang tertinggi yaitu pertemuannya dengan Tuhan.
Agaknya agak sulit diuraikan signifikansi iman bagi perbuatan ini, karena yang pertama bersifat abstrak sedang yang kedua bersifat konkrit. Untuk itu, ada konsep ibadat. Ibadah inilah yang berfungsi sebagai jembatan antara iman dan amal perbuatan tersebut. Dan karena itu ibadah memiliki makna intrinsik yaitu sebagai media pendekatan kepada Tuhan (taqarrub).
Di samping maksa intrinsik itu ibadah juga mengandung makna instrumental, karena ia bisa dilihat sebagai suatu usaha pendidikan pribadi dan kelompok (jama’ah) ke arah komitmen atau pengikatan batin kepada tingkah laku yang bermoral. Shalat misalnya, yang merupakan wujud ibadah yang menengahi antara perilaku baik dan iman, dapat mencegah seseorang dari perilaku kotor dan keji.

Jumat, 04 Oktober 2013

Pentingnya Salat



”Salat merupakan tiang agama. Orang yang menegakkannya berarti telah menegakkan agama. Sedang orang yang meninggalkannya sama saja dia merobohkan agama.”
Penegasan Nabi tersebut membuktikan sangat pentingnya salat bagi manusia. Sebab ia merupakan penentu kualitas perilaku manusia. Bahkan, konon, salat juga menjadi tolok ukur bagi amal ibadah seseorang pada saat hisab (perhitungan amal selama di dunia) kelak seusai kiamat.
Cukup rasional jika salat dijadikan penentu kualitas perilaku manusia, sebab ia merupakan media komunikasi yang sangat efektif antara manusia dan Tuhan. Komunikasi yang harmonis antara manusia dan Tuhannya melalui salat sangat dibutuhkan oleh manusia untuk menjaga ketenangan dan keteguhan batinnya.
Kewajiban salat lima waktu dalam sehari semalam dengan demikian tidak lain agar manusia mampu menjaga hubungannya dengan Tuhan. Orang yang mampu menjaganya berarti dia telah merupaya menjaga konsistensi (istiqamah) imannya. Dari orang seperti ini dapat diharapkan perilaku positif yang mencerminkan keimanannya tersebut. Sebaliknya, orang yang keimanannya terusik akibat tidak salat dia akan sangat mudah melakukan perbuatan yang meresahkan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Orang yang tidak menegakkan salat, betapa pun tampak gembira karena serta tercukupi kebutuhan maretialnya misalnya, tetapi kalau dia mau jujur sebenarnya dia acap kali merasa resah dan gelisah. Kegelisahan ini tidak lain karena batinnya yang kering akibat semakin menipisnya keimanannya.
Setiap orang memang seharusnya mengingat Tuhan kapan saja dan di mana saja dia berada. Tetapi kebutuhan-kebutuhan duniawi acap kali dapat mengusik ingatannya kepada Tuhan tersebut. Dengan media salat kealpaan itu dapat dimimalisir, sehingga ingatannya kepada Tuhan tetap terjaga.
Seseorang yang lupa pada Tuhan akan sangat mudah tergelincir pada perilaku menyimpang, terutama dari ajaran agama. Berarti orang yang gemar meninggalkan salat sangat mudah untuk terjerumus pada perbuatan maksiat. Apa yang bisa didapat dari kemaksiatan selain keresahan dan kegelisahan?
Karena itulah Nabi seringkali mengingatkan kepada sahabatnya perihal salat ini. Beliau juga menunjukkan bukti-bukti akibat yang harus diterima orang orang yang melalaikan salat. Salah satunya adalah sebagai berikut:
Pada suatu hari Nabi. sedang duduk bersama para sahabat di masjid Nabawi. Kemudian ada seorang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis. Nabi lalu bertanya, ”Wahai orang muda kenapa kamu menangis?” ”Ya Rasulullah, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya,” jawab pemuda itu.
Nabi kemudian memerintahkan Abu Bakar dan Umar untuk ikut pemuda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, keduanya mendapati ayah pemuda itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam. Mereka pun kembali dan memberitahu kepada Nabi.
Nabi lalu berangkat bersama sahabatnya menuju rumah pemuda itu. Nabi kemudian berdoa kepada Allah, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. Lalu Nabi dan para sahabat menyalatkan jenazah tersebut.
Namun mayat itu hendak dikebumikan, mayat itu kembali berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam. Nabi kemudian bertanya kepada pemuda itu, ”Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?” Dia menjawab, ”Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan salat.”
Kemudian Nabi bersabda, ”Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan salat. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah seperti babi hutan yang hitam.”
Kisah seperti ini bagi sebagian orang mungikin dianggap mengada-ada, karena dianggap tidak rasional dan imposible. Tetapi alangkah lebih baik jika diambil hikmah syar’iyah-nya saja bahwa Nabi sangat mewanti-wanti umatnya agar tidak meninggalkan salat.
Sebagian dari mereka bahkan menganggap memperbaiki perilaku sosial itu lebih baik daripada menegakkan salat. Hal ini mempertimbangkan implikasi yng ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Yang pertama jelas lebih besar karena dapat dirasakan oleh banyak orang. Berbeda dengan salat yang hanya dirasakan oleh orang yang menegakkannya.
Biarlah orang berpegang pada pendapatnya sendiri. Yang sangat jelas adalah Allah mewajibkan salat bukan untuk kepentinyan-Nya sendiri, karena ketundukan atau ketaatan manusia kepada-Nya tidak menambah sedikit pun keagungan-Nya. Semua hanya untuk kepentingan manusia sendiri, baik bagi kehidupannya saat ini maupun kelak di hadapa-Nya. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Kamis, 12 September 2013

Bulan Selo Itu Bulan Sial ?

Menurut kalender Hijriyah, saat ini kita berada di bulan kesebelas, yaitu Dzul Qo’dah. Bulan ini berada di tengah antara bulan Syawal dan Dzul Hijjah. Orang Jawa menyebut bulan ini dengan nama bulan Selo, yaitu antara bulan Syawal dan Besar. Mereka mengartikan bulan ini sebagai bulan sial, karena “selo” berarti “kesesel barang olo” (kemasukan barang yang jelek).
Padahal bulan Bulan Dzul Qo’dah atau Selo ini sebenarnya bukan bulan yang penuh dengan bencana tapi justeru merupakan bulan yang penuh berkah, penuh dengan semangat untuk berbuat baik, sebab ada larangan khusus untuk tidak berbuat dholim selama bulan-bulan mulia (QS. at-Taubah 36), termasuk pada bulan Dzul Qo’dah ini.
Pengartian bulan Selo dengan bulan “seselane ala” (baca olo = kejelekan) tersebut sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pemaknaan bulan Dzul Qo’dah, meski terdapat sedikit keterpelesetan. Kata “qo’dah” berasal dari kata “qo’ada” yang artinya duduk. Yang dimaksud duduk dalam penamaan ini adalah duduk untuk merenung dan berdzikir. Dari makna ini maka orang Jawa menyebutnya Siloan (baca silo = duduk bersila, seperti kebiasaan orang yang berdzikir). Dan lambat laun sebutan Siloan bergeser menjadi Selo.
Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa terdapat larangan khusus bagi umat Islam untuk berbuat dhalim atau berperang di bulan-bulan tertentu, tepatnya adalah bulan-bulan mulia (ayhurul hurum), sebagaigaimana difirmankan Allah: “Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar …’ “ (QS. al-Baqarah: 217); “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram … “ (QS. al-Maidah: 2).
Bulan-bulan mulia tersebut adalah Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab. Nabi bersabda: ”Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya saat Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu ada dua belas bulan. Empat di antaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari empat bulan itu, (jatuh secara) berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga sebagai) Syahru Mudhar, terletak di antara Jumada (ats Tsaniyah) dan Sya’ban. ” (QS. Bukhari)
Namun larangan itu tidak didasarkan pada pemahaman bahwa di bulan-bulan itu terdapat kesialan bagi umat Islam, seperti di bulan Dzul Qo’dah atau Selo. Tetapi lebih karena bulan-bulan itu sangat tepat untuk digunakan mendekatkan diri kepada Allah.
Jika bulan Syawal berarti peningkatan, tepatnya harapan adanya peningkatan pada setiap individu muslim setelah mereka kembali ke fitrah pasca Ramadan, maka di bulan Dzul Qo’dah ini mereka memasuki waktu untuk merenung dan berdzikir untuk menyiapkan diri memasuki bulan haji, Dzul Hijjah. Karenanya di waktu untuk merenung ini kurang baik jika digunakan untuk bersenang-sengang, seperti merayakan pernikahan, dll.
Jika makna “silo” (duduk bersila) ini yang dimaksud dengan Selo maka sebenarnya tidak ada kontradiksi antara pesan dari leluhur Jawa dengan maksud hijriyah, artinya sama-sama untuk merenung, bukan untuk seneng-seneng. Tegasnya bulan Dzul Qo’dah = bulan Silo untuk memperbanyak dzikir, bukan selo.
Bagi umat Islam sudah seharusnya meyakini ini; bulan Dzul Qo’dah adalah termasuk bulan-bulan yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan ibadah dan berdzikir kepada Allah. Hal ini bisa dimulai, misalnya dengan didasarkan pada semangat bulan ini adalah bulan napak tilas Musa (QS. Al-A’rof 142)
Para ulama salaf sangat memahami arti Dzul Qo’dah atau Selo sebagai bulan untuk bersila untuk berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Mereka bahkan memanfaatkan bulan ini dengan membaca aurat (bacaan wirid) tertentu, seperti dalam anjuran berikut:
Bagi yang ingin memperoleh keutamaan bulan ini, hendaknya mandi sunnah pada hari pertama, kemudian berwudhu’ dan melakukan shalat sunnah empat rakaat (2 kali salam). Setiap rakaat sesudah Fatihah, membaca Surat Al-Ikhlas (3 kali), An-Nas (3 kali) dan Al-Falaq (sekali). Seusai shalat membaca Istighfar (70 kali), kemudian membaca: Lâ Hawla walâ quwwata illâ billâhil ‘aliyil ‘azhîm. (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung), Yâ `Azîzu yâ Ghaffâru, ighfirlî dzunûbî wa dzunûba jamî`il mu’mîna wal mu’minât. Fainnahu lâ yaghfirudz dzunûba illâ Anta. (Wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Maha Pengampun, ampuni dosa-dosaku dan dosa-dosa mukminin dan mukminat, tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau).
Syeikh Ali bin Ibrahim berkata: Sungguh pada bulan-bulan yang mulia keburukan dilipatgandakan demikian juga kebaikan. Tanggal 11 Dzul Qaidah 148 H adalah hari kelahiran Imam Ali Ar-Ridha. Malam tanggal 15 Dzul Qa`idah adalah malam yang penuh berkah, sebab pada malam itu Allah memandang hamba-hamba-Nya yang mukmin dengan rahmat-Nya, memberi seratus pahala kepada orang yang beramal dalam ketaatan kepada Allah, juga kepada orang yang berpuasa yang hatinya selalu terkait dengan masjid dan matanya tidak bermaksiat kepada Allah, khususnya di dalam masjid Nabawi. Karena itu, hendaknya menghidupkan malam itu dengan ibadah, ketaatan, shalat dan doa kepada Allah.
Itu hanya sekedar contoh dari setumpuk buku kumpulan doa-doa dan cara bermunajah yang menjadi kebiasaan para ulama salaf di bulan Dzul Qo’dah atau Selo. Namun, sampai saat ini ternyata pemahaman bulan ini sebagai bulan sial dan bencana masih tetap lestari di tengah-tengah masyarakat, khusunya Jawa. Meski sebenarnya merupakan suatu pemahaman yang telah mengalami pergeseran dari makna yang dipahami oleh para leluhur Jawa sendiri. Yang lebih parah lagi, pemahaman ini dimanfaatkan oleh segelintir orang yang menyukai jalan pintas untuk meraih kesuksesan dengan meminta bantuan dukun, justeru menggunakan bulan ini sebagai bulan penebusan dan menyajian persembahan. Dan lebih parah lagi hal ini dilakukan dengan mengorbankan orang lain.