Jumat, 31 Januari 2014

Membantu Sesama

Abu Hurairah menuturkan bahwa Nabi pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah pada hari kiamat nanti akan berfirman, "Wahai bani Adam, Aku sakit, mengapa kalian tidak menjengukku?" Manusia bertanya, "Ya Rabb, bagaimana kami menjenguk-Mu padahal Engkau Rabbul 'Alamin?"
Allah menjawab, "Bukankah kalian tahu bahwa ada seorang hamba-Ku yang sakit, mengapa kalian tidak menjenguknya? Tahukah kalian, bila kalian menjenguknya kalian akan dapati Aku di sampingnya!"
"Wahai manusia, Aku minta makan kepadamu, mengapa kalian tidak memberiku?" Manusia langsung bertanya, "Ya Rabb, bagaimana kami memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabbul 'Alamin?"
Allah menjawab, "Bukankah kalian tahu bahwa ada seorang hamba-Ku fulan yang minta makan, mengapa kalian tidak memberinya? Tahukah kalian bila kalian berikan makanan kepadanya, kalian akan mendapati Aku di sampingnya?"
"Wahai manusia, Aku minta minum kepadamu, mengapa kalian tidak mau memberinya?"
Manusia bertanya lagi, "Ya Rabb, bagaimana kami memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabbul 'Alamin?" Allah menjawab, "Tidakkah kalian tahu bahwa ada seorang hamba-Ku yang minta minum, mengapa kalian tidak memberinya? Tahukah kalian bila kalian berikan minuman kepadanya, kalian akan dapati Aku di sampingnya?" (Muslim).
Hadits ini cukup relefan dalam rangka menumbuhkan semangan kemanusian untuk membantu para korban bencana alam beruap banjir, tanah longsor,dll.di beberapa daerah di negeri ini. Kondisi saudara-saudara kita itu saat ini sangat memprihatinkan. Sebagian besar mereka yang telah tertampung di barak-barak pengungsian menderita sakit dengan fasilitas pengobatan sangat terbatas, kelaparan sementara berbagai bantukan makanan dan air bersih masih jauh dari mencukupi, belum lagi yang mengalami guncangan jiwa, dll.
Mereka semua jelas membutuhkan sentuhan nurani kita. Bukankah setiap kita ketika sakit ingin dijenguk meski hanya dengan seulas senyum. Ketika lapar ingin ada yang memberi makan dan minum meski hanya sesuap. Dan ketika haus ingin ada seseorang yang menuangkan air meski hanya seteguk.
Memang telah banyak bantuan kemanusiaan yang telah dan sedang dikirim ke sana, baik dari dalam maupun luar negeri. Tetapi sudah tentu semuanya masih jauh dari mencupupi, terutama untuk mengembalikan kehidupan mereka seperti sediakala.
Para korban itu mayoritas beragama Islam. Sehingga bagi umat Islam, peristiwa ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengevaluasi diri seberapa besar kecintaannya kepada saudaranya sesama muslim diwujudkan. Nabi menyatakan bahwa kecintaan kita kepada saudara seagama itu paling tidak sama dengan kecintaan kita pada diri sendiri. Kita pun bisa membayang kalau peristiwa itu menimpa kita.
Di sisi lain, seorang yang beriman sudah tentu menjadikan Tuhan sebagai orientasi hidupnya. Apa pun dan di mana pun jalan menuju-Nya akan ditempuh. Masyarakat yang terkena musibah yang sekarang sedang menderita sakit fisik dan mental serta diperparah dengan kelaparan sudah tentu Ia berada di samping mereka, seperti yang tersirat dalam hadits di atas.
Artinya, uluran bantuan yang kita berikan bukan semata-mata berdimensi kemanusiaan, tetapi juga berdimensi ketuhanan. Inilah salah satu saat yang tepat untuk membuktikan sikap keberagamaan secara utuh (vertikal dan horizontal). Apalagi Islam sangat jelas memberikan parameter kesalehan bukan hanya pada praktik ibadah mahdlah tetapi juga pada ibadah sosial.
Dalam hal ini perilaku Abu Hurairah yang menuturkan sabda Nabi di atas dapat dijadikan sebagai teladan. Ketika beliau sedang beritikaf di Masjid Nabawi, tiba-tiba didapatinya seorang lelaki yang sedang bersedih duduk di sudut masjid. Abu Hurairah mendekatinya dan bertanya perihal kesedihannya. Begitu mengetahui persoalannya, Abu Hurairah berkata, "Ayo berdirilah bersamaku, aku akan memenuhi kebutuhanmu."
Lelaki itu berkata, "Apakah engkau akan meninggalkan itikafmu di Masjid Rasul yang mulia ini hanya demi aku?" Abu Hurairah menangis dan berkata, "Aku mendengar Nabi bersabda, "Berjalannya seorang di antara kalian untuk memenuhi kebutuhan saudaranya hingga terpenuhi, lebih baik baginya daripada itikafnya di masjidku ini selama sepuluh tahun."
Alangkah indahnya ungkapan sebuah syair Arab yang menggambarkan kebahagiaan orang yang membantu saudaranya, "Engkau melihatnya begitu bahagia dengan sesuatu yang diberikannya kepadamu, seakan-akan engkaulah yang memberikan kepadanya sesuatu yang kau minta."
Sudah tentu, perilaku Abu Hurairah ini merupakan satu dari sekian banyak perilaku para salaf al-salih yang dapan diteladani oleh umat Islam sepanjang jaman.

Kamis, 30 Januari 2014

Bencana Alam



Seperti sudah menjadi kebiasaan, tiap musim penghujan ada banyak bencana alam yang terjadi. Ada banjir, tanah longsor, banjir bandang, sapuan angin puyuh, dll. Semua musibah tersebut bukan hanya menelan korban, tetapi juga menyisakan kerusakan infrastruktur dan persoalan sosial kemasyarakatan yang sama-sama membutuhkan penangan sesegera mungkin.
Semua bencana itu merupakan musibah yang memprihatinkan. Ironinya, berbagai bencana yang terjadi belum banyak mengusik kesadaran masyarakat untuk segera melihat lebih jernih sikap mereka selama ini terhadap alam dan lingkungan. Alih-alih menjadi sebuah peringatan, bencana malah mulai marak menjadi komoditi tersendiri bagi kepentingan ekonomi dan politik.
Kenapa semua bencana itu terjadi meski dapat dikaji secara ilmiah, tetapi tidak dapat dilupakan juga bahwa hal itu merupakan peringatan Allah kepada manusia terutama mereka yang lupa diri, lupa asal dan tempat mereka akan kembali. Karenanya, ungkapan yang terucap dari seorang yang beriman pada saat tertimpa musibah adalah inna lillah wa inna ilaihi raji'un (kita semua milik Alllah dan kepada-Nya kita kembali).
Dinyatakan sebagai peringatan sebab setiap bencana tidak lepas dari ulah manusia sendiri. Keistimewaan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya justru membuatnya berlaku semaunya sendiri, termasuk kurang atau tidak mengindahkan ekosistem alam. Negeri yang gemah limpah loh jinawi ini berubah menjadi negeri langganan bencana tidak lain akibah ulah bangsa ini dalam menyikapi alam.
Allah berfirman: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (30: 41);
"Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu, Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik." (2: 59);
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri." (42: 30)
Dari sini tidak salah jika kemudian ada yang memahami bukan sekedar peringatan, tetapi sudah merupakan azab Allah. Dalam hal ini Allah telah mencontohkan dengan azab yang diberikan kepada Bani Israel di zaman dulu akibat perbuatan-perbuatan mereka yang melampaui batas, seperti dalam firman Allah, antara lain:
"...Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas." (2: 61)
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka melampaui batas." (3: 112)
"Barangsiapa yang membelakangi orang-orang yang kafir (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan (sendiri) yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam." (8: 16)
Tetapi bagi sebagian orang, semua musibah dan anugerah pada hakekatnya berkedudukan sama, yaitu sama-sama merupakan ujian dan cobaan atas keislaman, kesungguhan, kesabaran, dan kepasrahan mereka, seperti firman Allah, antara lain:
"Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (2: 155)
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan. Mereka digoncang (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.'" (2: 214)
"Apa kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (3: 142)
Lepas dari perbedaan pola penyikapan tersebut, sebagai seorang mukmin sudah sepatutnya kita menerima segala musibah yang menimpa itu sebagai peringatan, agar kita mawas diri dan memperbaiki diri; dan sebagai ujian bagi meningkatkan kesabaran, tawakal dan kedekatan kita kepada Allah.
Di samping itu kita harus merubah sikap kita dalam dalam menyikapi alam. Program penghijauan misalnya, agar jangan hanya menjadi komoditas ekonomi dan politik semata, tetapi benar-benar terlaksana sebagai wujud sikap ramah kita terhadap alam. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Selasa, 17 Desember 2013

Fisioterapi Wudhu


Suatu hari Junaid al-Banghdadi terkena sakit mata. Dia diberitahu oleh seorang tabib agar matanya jangan sampai terkena air kalau ingin cepat sembuh. Tetapi dia nekad membasahinya karena dia harus berwudhu sebelum menjalankan salat. Seusai salat dia beristirahat. Namun dia terkejut saat terbangun karena mendapati matanya telah sembuh.
Tabib yang tadinya mengingatkan juga terheran mendengar kabar tentang kesembuhan mata Junaid dengan dilatari kisah seperti itu. Dia pun memeluk Islam dan memperdalami keislamannya dan menyembuhkan sakit mata hatinya kepada Junaid.
Allah telah memerintahkan umat Islam untuk berwudhu (QS.5: 6). Dalam pandangan fiqh wudhu merupakan salah satu syarat sahnya salat dan dijalankan dengan motiv ta’abbudi (menjalankan amalah sebagai salah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah). Meski demikian, ia termasuk dalam katagori amaliyah dharuriyah, yaitu amaliyah yang harus tetap dilestarikan untuk menjaga eksistensi agama.
Setiap perintah Allah, baik untuk mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan, pasti mengandung hikmah tersendiri bagi manusia, tak terkecuali wudhu. Peristiwa yang dialami Junaid adalah salah satu contohnya. Penemuan-penemuan hikmah wudhu bagi kesehatan manusia juga banyak ditemukan melalui penelitian-penelitian modern.
Dr. Magomedov, asisten pada lembaga General Hygiene and Ecology di Daghestan State Medical Academy, menemukan bahwa wudhu dapat menstimulasi irama tubuh alam, khususnya pada area yang disebut BASes (biological active spots atau titik-titik aktif biologis). Titik-titik tersebut mirip dengan titik-titik refleksologi akupunktur dalam tradisi pengobatan Cina.
Dalam sekalu berwudhu ada 61 sampai 65 titik refleksi yang terkena basuhan wudhu. Titik-titik tersebut merupakan saraf-saraf yang berhubungan dengan organ-organ tubuh manusia yang sering kali menimbulkan penyakit akut, seperti ginjal, jantung, paru-paru, darah tinggi, dan kangker. Saat berwudhu titik tersebut akan terefleksi sehingga selain bisa mengobati bisa juga mencegah terjadinya penyakit-penyakit akut tersebut.
Guyuran air wudhu dapat disamakan dengan hidroterapi atau pemijatan dengan memanfaatkan air sebagai media penyembuhan seperti dalam terapi pengobatan modern. Membasuh wajah misalnya, akan memberi efek positif pada usus, ginjal, dan sistem saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri berefek positif pada kelenjar pituiri dan otak yang mengatur fungsi-fungsi kelenjar endokrin. Di telinga terdapat ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan  mengurangi sakit.
Secara filosofi, wudhu merupakan suatu persiapan mental untuk mengerjakan salat. Kesucian dan kesejukan yang ditimbulkan oleh wudhu akan dapat membangkitkan konsentrasi dalam pelaksanaan salat, karena wudhu dapat menstimulir lima organ panca indra yaitu mata, telinga, hidung, mulut, tangan dan kaki.
Para pakar neurologists telah membuktikan bahwa dengan air wudhu yang mendinginkan ujung-ujung saraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki berguna untuk memantapkan konsentrasi pikiran. Terlebih lagi secara keseluruhan dengan ujung-ujung saraf seluruh anggota wudhu.
Seorang ustadz saya di pesantren dulu pernah menjelaskan bahwa wudhu dan salat merupakan dua bentuk ibadah yang berangkai. Sudah tentu keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat, hingga logis jika cara berwudhu sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan salat. Jika wudhu dilakukan dengan sempurna maka kesempurnaan itu akan memberi efek pada pelaksaan salat. Hasil penelitian di atas membuktikan kebenaran statemen ustadz tersebut.
Pada anggota badan yang terkena basuhan dan usapan saat berwudhu (a’dla’ul wudlu’) terdapat ratusan titik akupunktur yang bersifat reseptor terhadap stimulus berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan/urutan ketika melakukan wudhu. Stimulus tersebut akan dihantarkan melalui meridian ke sel, jaringan, organ dan sistim organ yang bersifat terapi. Hal ini terjadi karena adanya sistem regulasi yaitu sistem saraf dan hormon bekerja untuk mengadakan homeostasis (keseimbangan).
Semua titik akupunktur memiliki multi indikasi (banyak khasiat) untuk pencegahan dan pengobatan berbagai macam penyakit. Adapun jumlah titik yang terdapat pada anggota wudhu sudah teridentifikasi minimal 493 titik, wajah 84, tangan 95, kepala 64, telinga 125, dan kaki 125.
Saat melakukan takhlil misalnya, (membersihkan sela-sela jari tangan dan kaki) terdapat masing-masing satu titik istimewa; Ba Sie pada sela-sela jari tangan dan Ba Peng pada sela-sela jari kaki. Secara keseluruhan terdapat 16 titik. Titik-titik tersebut apabila dirangsang dapat menstimulir bio energi (Chi) guna membangun homeostasis. Hal ini akan menghasilkan efek terapi yang memiliki multi indikasi, seperti untuk mengobati migren, sakit gigi, tangan-lengan merah, bengkak, dan jari jemari kaku.
Subhanallah, begitulah sedikit uraian tentang hikmah fisioterapi pada wudhu. Sudah tentu masih sangat banyak hikmah lagi. Semoga kita termasuk orang yang menyempurnakan wudhu, sebab Nabi bersabda, “Sungguh ummatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhunya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam bi al-shawab.

Rabu, 20 November 2013

Berpikir Bebas Dalam Beragama



“Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan, tapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan tersembunyi.” (Ahmad Wahib).

Barangkali kalau catatan hariannya tidak dibukukan oleh teman dekatnya, Djohan Effendi, nama Ahmad Wahib benar-benar terkubur bersama jasadnya. Seorang pemuda berdarah Madura yang turut mewarnai pergolakan pembaruan Islam di Indonesia pada tahun 1960-an dan awal 1970-an. Sayang, ia mati muda, sebelum sempat melakukan pengkajian lebih dalam terhadap pemikiran liar dan non-mainstreaming yang ia catat dalam diarenya.
Tidak heran kalau nama Ahmad Wahib luput dari perhatian para Indosianis, seperti Prof. B.J. Boland dari Belanda dan Dr. Kamal Hassan dari Malaysia, saat mereka melakukan pengkajian tentang gerakan pemaruan Islam di Indonesia.
Baru pada tahun 1981, delapan tahun meninggalnya (31 Maret 1973), saat catatan hariannya diterbitakan oleh LP3ES dengan judul yang provokatif, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, nama Wahib kembali diingat dan memperoleh puncak popularitasnya.
Usia Wahib yang pendek dan posisinya sebagai “intelektual di balik layar” memang membuat nama pemuda berperawakan kecil dan kurang meyakinkan ini tidak banyak dikenal. Tetapi di kalangan pemuda dan mahasiswa yang gandrung pada ide-ide pembaruan dan kawan-kawannya, seperti Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo, ia dikenal sebagai pemuda yang agresif menyuarakan pentingnya pembaruan di tubuh Islam.
Sikap agresif Wahib mula-mula muncul dalam diri yang ditemuinya selalu gelisah. Kegelisahan ini tampak misalnya dalam catatanya, “Aku ingin al-Qur’an itu membentuk pola berpikirku. Aku tak tahu apakah selama ini aku sudah Islam atau belum. Tapi bagaimanakah mengintegrasikan al-Qur’an itu dalam kepribadianku? Bagaimana? Tuhan, aku rindu akan kebenaran-Mu.
Adalah kegelisahan yang mendorong Wahib untuk menyerukan berpikir bebas dalam rangka mencari kebenaran. Berpikir bebas bukan saja hak melainkan sebuah kewajiban. Orang yang berpikir, meskipun hasilnya salah, masih jauh lebih baik daripada orang yang tidak pernah salah karena tidak pernah berpikir.
Berpikir bebas meniscayakan tidak adanya batasan dalam pemikiran keagamaan. Karenanya, Wahib menolak pemikiran keagamaan yang dibatasi dengan tauhid sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Ia tidak menginginkan Islam yang membatasi kebebasan berpikir. Ia lebih memilih menjadi seorang kafir, atau paling tidak, muslim setengah hati, jika memang Islam memberikan batasan terhadap apa yang boleh dan tidak dipikirkan.
Wahib yakin Tuhan tidak membatasi pikirannya. Dia malah bangga dengan otaknya yang selalu bertanya-tanya tentang-Nya. “Aneh,” tulisnya, “mengapa berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan sendiri?” Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan itu segar, hidup, tidak beku, dan Dia tak akan mau dibekukan
Meski demikian, Wahib sebenarnya tidak sampai pada tingkat mendewakan kekuatan berpikir manusia seolah-olah absolut. Kekuatan berpikir manusia memang ada batasnya, tetapi batasan itu baru akan diketahui setelah manusia berkali-kali mencoba menembusnya dan selalu gagal. Otak manusia tidak akan mampu melampaui batas kekuatannya. Kalau sudah begitu, tidak ada gunanya mempersoalkan batas, karena yang di luar batas itu sudah di luar kemampuan.
Piranti berpikir bebas ini kemudian digunakan Wahib untuk mengkritisi masalah-masalah sosial, politik, budaya dan, terutama, agama. Pada masalah agama, Wahib tidak segan-segan mengkritik sikap-sikap keberagamaan yang ekslusif dan pemikiran-pemikiran keagamaan yang sudah established.
Alih-alih Wahib menyerukan kepada umat Islam untuk tidak takut menggunakan piranti berpikir bebas tentang agama, termasuk berpikir pada wilayah eksistensi Tuhan. Ia menegaskan, “Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan, tapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan tersembunyi.”
Berpikir bebas ini mutlak diperlukan bagi upaya pembaruan Islam. Sebagaimana mutlaknya keharusan pembaruan Islam itu sendiri, seiring dengan perubahan struktur sosial yang dipicu oleh perubahan sosio-politik, terpuruknya kekuatan politik umat Islam, dan terjadinya ketegangan di internal umat Islam sendiri kaitannya dengan upaya merespon modernisme.
Ketegangan yang terjadi di kalangan modernis Islam telah sampai pada titik ekstrim, yaitu kelompok yang cenderung melibatkan agama secara total dalam setiap segi kehidupan dan kelompok yang mengeksklusi agama untuk berperan dalam perubahan sosial. Padahal, keduanya telah terjerembab dalam lubang kekeliruan yang sama. Faksi pertama abai terhadap elan vital wahyu karena lebih mengedepankan historical setting-nya. Dan faksi kedua cenderung menafikan peran agama sebagai penjelas realitas sosial.
Ketegangan itu kemudian diurai oleh Wahib dengan membedakan Islam das sollen dan Islam das sein. Islam das sollen adalah statis, abadi, universal dan sempurna. Ia menjadi sumber moral yang mampu menggugah dan menerangi jiwa manusia. Islam dalam pengertian ini bukan merupakan Islam barang jadi tinggal pakai, bukan Islam yang secara rinci mengatur tingkah laku dan mengatur hukum-hukum kehidupan. Ia hanya merupakan titik tolak bagi munculnya berbagai perilaku dan hukum yang terbentuk menurut historical setting suatu masyarakat pada waktu dan tempat tertentu.
Berbeda dengan Islam das sein, Islam dalam pemahaman umat. Islam ini dinamis dan akan terus mengalami perubahan seiring perubahan ruang dan waktu. Tegasnya, terdapat perbedaan antara (agama) Islam dan konseptualisasi terhadapnya. Kesadaran seperti ini yang tampaknya tidak dimiliki oleh mayoritas umat Islam, sehingga mereka cenderung menganggap pemahamannya terhadap Islam merupakan pemahaman menurut Tuhan.
Melalui penegasan ini tampaknya Wahib berusaha mengambil posisi tengah di antara dua faksi kelompok modernis yang masih terbuai oleh pemahaman keagamaan yang dogmatis dan parsial. Mereka tidak mau berpikir terlalu jauh atau berpikir bebas karena takut pada murka Tuhan.
Wahib ragu bahwa manusia akan mampu menemukan Islam sebenar-benar Islam dalam pengertian Islam menurut pembuatnya sendiri, Allah. Sebab manusia merupakan makhluk yang profan, meruang dan mewaktu, sedangkan Tuhan dan kalam-Nya merupakan suatu yang transendental. Yang dapat dilakukan manusia hanya mendekati Tuhan dan mendekati Islam yang sejati (das sollen), bukan meraihnya.
Di sisi lain, (agama) Islam juga memerlukan bentuk. Tetapi bentuk itu sendiri bukan agama.  Dalam hal ini, ajaran-ajaran Islam yang dipercayai secara penuh oleh Wahib hanya Allah dan Muhammad. Selain itu tidak mutlak, kondisional. Agama dalam pengertian peraturan-peraturan yang dibawa oleh Nabi Allah itu tidak mutlak dan tidak boleh dimutlakkan. Yang boleh dimutlakkan hanya Tuhan.
Al-Qur’an dan hadis merupakan bentuk final Islam di era formasi Islam. Tetapi keduanya bukan Islam itu sendiri, karena keduanya secara material merupakan hal yang profan, hasil sintesa problem kemasyarakatan dan respon umat pada jamannya.
Karenanya, umat Islam secara individual perlu memberikan bentuk pada Islamnya yang tidak berbentuk. Dan bentuk tersebut semata-mata urusan individual sesuai dengan keunikan-keunikan dalam dirinya, penghayatannya terhadap kehidupan dan penafsirannya terhadap suatu bentuk sempurna yang telah pernah ada dalam sejarah Islam, yaitu sejaran Muhammad.
Sejarah Muhammad, menurut Wahib, merupakan sumber utama Islam, bukan al-Qur’an dan hadis. Bunyi al-Qur’an dan hadis adalah sebagian dari sumber sejarah dari sejarah Muhammad yang berupa kata-kata yang dikeluarkan Muhammad sendiri. Dikatakan sebagian karena masih tersisa sejarah Muhammad yang lain, seperti struktur masyarakat, kebudayaan, struktur ekonomi, pola pemerintaha, hubungan luar negeri, adat istiadat, iklim, pribadi Muhammad sendiri dan para sahabatnya, dll.
Dengan meletakkan sejarah Muhammad dan perjuangannya sebagai sumber Islam setiap individu muslim akan terlibat dalam tugas historical direction untuk mengisap dari sejarah itu sumber terang bagi masa kini. Dalam tugas ini, aktifitas spiritual dan intelektual akan ikut bicara. Orang yang mampu melaksanakan tugas ini dengan baik dan memahami tugas historical directian sebagai panggilan sekaligus direct communication with God, ia akan bisa memahami wahyu Allah secara komplit, yaitu wahyu Allah yang turun kepadanya selain al-Qur’an yang turun ke Muhammad.
Dengan demikian, apa yang transenden dan yang ideal harus didekati terus-menerus. Dan pada saat yang sama realitas alam semesta secara keseluruhan (kauniyah) juga harus dipersandingkan. Inilah tugas manusia sesuai fitrahnya. Apalagi manusia memang tidak mengetahui batas kemampuan pikirannya.
Proses serupa itu harus dilakukan secara terus-menerus. Untuk itu, Wahib menyatakan pentingnya gerakan pembaruan dan harus terus-menerus dijalankan, mengingat kompleksitas masalah keagamaan di satu sisi, dan perbedaan tantangan dari zaman ke zaman pada sisi lain. Sehingga proses pembaruan menjadi tuntutan yang tak bisa dielakkan.
Pembaruan berarti tidak mengenal kata selesai. Sebab ia senantiasa mencari dan terus mencari kebenaran. “… gerakan pembaruan adalah suatu gerakan yang selalu dalam keadaan gelisah, tidak puas, senantiasa mencari dan bertanya tentang yang lebih benar dari yang sudah benar, dari yang lebih baik dari yang sudah baik.” tulis Wahib.



 Biodata dan Karya

Ahmad Wahib lahir dan besar di di tengah-tengah keluarga muslim santri di Sampang Madura pad 9 Nopember 1942. Wahib mewarisi watak sebagai pemberontak terutama soal keberagamaan dari ayahnya yang seorang kyai. Meski ia seorang “Gus,” tapi ia lebih memilih pendidikan umum; SMA Pamekasan tahun 1961, FIPA UGM Yogyakarta dan STF Driyakara Jakarta. Sayang, ia belum sempat menyelesaikan kuliahnya.

Wahib memiliki pergaulan yang cukup luas, selain di HMI dan Lingkaran Diskusi Limited Group. Pergaulan ini turut mendukung proses pencariannya, sekaligus membentuk pikiran-pikirannya, hingga ia menjadi seorang pemikir “radikal” dan progresif.

Sayang, Wahib keburu meninggal (31 Maret 1973) sebelum sempat menuangkan pikiran-pikiran “liarnya” dalam bentuk kajian yang komprehensip. Selain artikelnya tentang pembaruan pemikiran Islam, yang ia tulis sebagai laporan untuk majalah Tempo menggantikan Syu’ba Asa yang sedang sakit, hanya berupa catatan harian yang kemudian disunting oleh teman dekatnya, Djohan Effendi, untuk diterbitkan oleh LP3ES tahun 1981 dengan judul Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib.