Senin, 05 November 2012

Birrul Walidain

Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah saat ibunya masih belum memeluk Islam. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya dituturkan dari Abu Hurairah. Dia bercerita: Suatu hari aku mengajak ibuku untuk masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan yang tidak kusukai tentang Nabi. Aku pun menemui Nabi dalam keadaan menangis.
Aku mengadu, “Wahai Rasulullah, aku telah mengajak ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku. Hari ini, dia berkomentar buruk tentang dirimu. Mohonlah kepada Allah supaya memberi hidayah pada ibuku.” Nabi kemudian memanjatkan doa, “Ya, Allah. Berilah petunjukak kepada ibu Abu Hurairah.”
Aku keluar dari rumah Nabi dengan hati riang karena do’a beliau. Ketika aku pulang dan sudah mendekati pintu, ternyata pintu rumahku terbuka. Ibuku yang mendengar langkah kakiku berseru, “Tetap di situ Abu Hurairah.”
Aku mendengar suara gebyuran air. Ternyata Ibu sedang mandi. Tak lama kemudian ibu mengenakan pakaiannya serta menutup wajahnya, baru kemudian menyilahkanku masuk rumah. Dia berkata, “Wahai, Abu Hurairah! Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu.”
Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan menangis haru dan gembira. Aku berkata, “Wahai, Rasulullah, Bergembiralah. Allah telah mengabulkan do’amu dan telah memberi petunjuk kepada ibuku.” Beliau lalu memuji Allah dan menyanjungNya.
Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya, “Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku) wahai Ibnu Umar?” Beliau menjawab, “Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)”.
Zainal Abidin, adalah seorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang keheranan kepadanya (dan berkata), “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam satu talam?”
Ia menjawab, ”Aku khawatir tanganku mengambil sesuatu yang dilirik matanya, sehingga aku durhaka kepadanya.”
Masih ada lagi kisah yang lebih mengharukan, yaitu apa yang dialami oleh Uwais al-Qarni, orang yang sudah beriman pada masa Nabi, sudah berangan-angan untuk berhijrah ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi. Namun perhatiannya kepada ibunya telah menunda tekadnya berhijrah. Ia ingin bisa meraih surga dan berteman dengan Nabi dengan baktinya kepada ibu, kendatipun harus kehilangan kemuliaan menjadi sahabat beliau di dunia.
Dalam shahih Muslim, dari Usair bin Jabir, ia berkata: Bila rombongan dari Yaman datang, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka, “Apakah Uwais bin Amir bersama kalian?” sampai akhirnya menemui Uwais. Umar bertanya, “Engkau Uwais bin Amir?” Ia menjawab, ”Benar.” Umar bertanya, “Engkau dari Murad kemudian beralih ke Qarn?” Ia menjawab, “Benar.” Umar bertanya, “Engkau punya ibu?” Ia menjawab, “Benar.”
Umar akhirnya mulai bercerita, “Aku mendengar Rasulullah bersabda. “Akan datang pada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman yang berasal dari Murad dan kemudian dari Qarn. Ia pernah tertimpa lepra dan sembuh total, kecuali kulit yang sebesar logam dirham. Ia mempunyai ibu yang sangat dihormatinya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya aku hormati sumpahnya. Mintalah ia beristighfar untukmu jika bertemu.”
Umar pun akhirnya berkata, “Tolong mintakan ampun kepada Allah untukku.” Maka ia memohonkan ampunan untukku. Umar bertanya, “Kemana engkau akan pergi?” Ia menjawab, “Kufah.” Umar berkata, “Maukah engkau jika aku menulis rekomendasi untukmu ke gubernur Kufah?” Ia menjawab, “Aku lebih suka bersama orang yang tidak dikenal.”
Itulah beberapa teladan sikap birrul walidain yang ditunjukkan oleh para sahabat Nabi. Birrul Walidain terdiri dari kata birru dan walidain. Birru atau al-birru berarti kebajikan dan al-walidain artinya kedua orang tua atau ibu bapak. Birrul walidain berarti berbuat baik kepada kedua orang tua.
Berbakti pada kedua orang tua adalah akhlak mulia yang sangat diagungkan dalam ajaran Islam. Namun memang tidak semua orang berkesempatan melakukannya sebaik-baiknya. Banyak juga konflik yang timbul antara anak dan orangtua, serta sebaliknya. Untuk meredam semua gejolak itu, haruslah anak dan orang tua bersikap dengan didasari pengetahuan agama yang benar.
Insyaallah, jika kita selalu berusaha menjalankan perintah Allah sebaik-baiknya, maka Allah akan memberikan kemudahan dan keringanan dalam menjalaninya. Juga haruslah diingat bahwa berbakti pada orang tua akan membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi hidup kita di dunia maupun akhirat.
Salah satu tradisi berlebaran di negeri ini adalah sungkem kepada kedua orang tua. Begitu kuatnya tradisi ini hingga bapak presiden mempertontonkan pelaksanaan tradisi ini melalui media televisi, sehingga seluruh rakyat dapat menyaksikannya. Tradisi yang baik ini memang sepetutnya terus dijaga dan dilestarikan.
Memang birrul walidain tidak harus diwujudkan dalam bentuk formal sungkeman, yang lebih pentiing adalah wujud bakti kepada orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Bagi yang masih belum sempat melakukan birrul walidain, kiranya moment lebaran kali ini dapat dijadikan sebagai titik awal, apalagi setelah memalui tembaan penguatan batin selama bulan Ramadan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar